Selasa, 10 Agustus 2010

DUA ORANG TUKANG KAYU

Tersebutlah dua orang tukang kayu yang tinggalnya bersebelahan. Pekerjaan keduanya setiap hari adalah memotong kayu menjadi potongan yang kecil-kecil dengan kampak, untuk kemudian dijual di kota. Keduanya adalah pekerja keras. Karena pekerjaan mereka memotong kayu, maka disekeliling rumah mereka masing-masing terdapat tumpukan kayu hasil kerja mereka selama ini. Namun dari tumpukan tersebut terdapat perbedaan yang cukup mencolok. Tumpukan salah satu tukang kayu menjulang tinggi sementara yang lainnya tidak. Hasil kerja salah satu tukang kayu tersebut sangat banyak sedangkan potongan tukang kayu lainnya sedikit.

Demi melihat hal itu, bertanyalah si tukang kayu yang hasil kerjanya sedikit kepada tetangganya tersebut, “Bagaimana kau dapat bekerja menghasilkan potongan kayu sedemikian menggunung dan banyak, padahal kita memulai pekerjaan ini secara bersamaan, waktu bekerja dan istirahat kita bersamaan, dengan kampak yang bentuk dan besarnya sama pula.”

Si tukang kayu yang menghasilkan potongan banyak menjawab, “Itu karena aku selalu meluangkan waktu untuk mengasah kampakku ketika telah mulai tumpul, sehingga kampakku selalu tajam.”

Si tukang kayu yang hasil kerjanya sedikit mengguman sambil lalu, “Ah, karena pekerjaanku yang sedemikian banyak dan aku ingin cepat-cepat memotong kayu sebanyak mungkin, aku tidak sempat untuk mengasah kampakku.”

Pembaca yang budiman, kedua tukang kayu diatas memiliki tipe sama yaitu pekerja keras. Namun kedua tokoh tadi memiliki perbedaan mendasar. Salah satu dari mereka bekerja sangat keras dengan harapan dapat sesegera mungkin menghasilkan tumpukan kayu yang sedemikian banyak agar kelak dapat dijual ke kota dan mengasilkan banyak uang. Lain lagi dengan tukang kayu satunya, di sela-sela pekerjaannya, dia masih menyempatkan diri untuk mengasah alat kerjanya / kampaknya. Dengan harapan dengan kampak yang tajam, maka tenaga yang dikeluarkan untuk memotong kayu menjadi efisien dan lebih berdaya guna, sehingga kayu yang dipotong-pun makin bertambah banyak.

Kunci dari hal diatas adalah terdapat tukang kayu yang menyempatkan mengasah alat / kampaknya. Sebagaimana yang kita alami sehari-hari, kita bekerja atau berusaha keras untuk meraih harapan / prestasi kita. Jika kita selalu mengedepankan hasil jangan lupa, kita juga harus berpikir bagaimana proses yang harus kita lalui untuk menuju hasil tersebut. Jika kita pelajar dan ingin lulus atau naik kelas, jika kita pengusaha / wirausahawan yang ingin usahanya berhasil, karyawan yang ingin bekerja dengan lebih baik, atau siapapun anda dan apapun profesinya alangkah baiknya “kampak” kita juga selalu diasah. “Kampak” itu tidak hanya yang berbentuk barang penunjang pekerjaan kita seperti cangkul, kalkulator, komputer, sepeda, sepeda motor, ballpoint atau lainnya, namun ada “kampak” yang selama ini kita pergunakan namun kadang jarang di asah dengan cara belajar. Anda tahu kan nama “kampak” tersebut?

Ya, tanpa sadar kadang kita jarang meng-upgrade atau memberikan tambahan hal baru ke dalam alam pikiran kita. Bukan karena bodoh, tapi karena malas. Banyak kesempatan kadang kita lewatkan untuk memberikan “asahan” kepada pikiran kita. Kita jarang membaca, menonton, mendengarkan hal-hal yang diluar program / bacaan hiburan. Kita juga jarang mengadakan diskusi, omong-omong tentang suatu hal yang mendalam dengan orang – orang diluar profesi kita.

Kita tidak perlu membuka dan paham internet untuk bisa membaca banyak hal disana dan mengasah pikiran kita, tidak usah terlalu muluk-muluklah. Di sekitar kita banyak buku (baru/bekas), program siaran radio/televisi yang mengupas pengetahuan atau hal-hal baru (bukan hanya sinetron baru ya…), koran (baru/bekas), bahkan kita bisa bertukar pikiran dengan orang – orang baru yang selama ini tidak kita ketahui suka dukanya mengarungi hidup atau jika kebetulan dia sebagai orang yang berhasil, dapat menceritakan banyak pengalaman berharga bagi kita. Menambah pengetahuan bukan hanya dengan kita melaksanakannya langsung, mendengarkan pengalaman juga bagian dari hal tersebut.

Dan paling penting adalah, siapkan diri kita, pikiran kita untuk siap menerima berbagai hal baru yang kadang selama ini tidak terbayangkan oleh kita. Otak kita, pikiran kita memiliki dua hal pokok, alam sadar dan alam bawah sadar. Alam sadar menuntun kita untuk bertindak dalam alam realita yang kita hadapi sehari-hari. Alam bawah sadar memiliki potensi besar untuk mengajak kita maju dan berkembang dengan berdasar pada pengetahuan dan pengalaman positif yang kita serap selama ini. Semenjak kita kecil sampai sekarang.

Jadi siapkan diri kita untuk menerima pikiran positif dari hal baru, pengetahuan dan pengalaman baru. Dari hal-hal positif yang baru tersebut akan mengendap dalam alam bawah sadar kita. Alam bawah sadar akan memberikan kita tuntunan ke dalam pemahaman atau cara pandang baru, pola tindakan, penyelesaian masalah dan lain-lain. Dengan terbukanya pemikiran kita, siap-siaplah kita untuk berubah tanpa kita sadari. Kita dapat saja menghasilkan pekerjaan yang lebih baik dari yang lalu, prestasi di sekolah / belajar lebih baik dari yang sudah-sudah, meningkatkan pendapatan lebih. “Asah” selalu “kampak” kita dengan hal positif dan kita akan berubah. Jika kita katakan ,”saya terlalu tua, tak mampu untuk berubah,” baca kalimat berikut : Tidak ada kata terlambat untuk menjadi lebih baik, mulailah dari saat ini, mulai detik ini. TETAP SEMANGAT !

TALI RAFIA

Kami sekeluarga (saya bersama istri dan anak semata wayang kami, berumur 5 tahun) memiliki kebiasaan berkendaraan roda dua jika hendak menengok orang tua yang kebetulan jauh di salah satu kabupaten di daerah pantai utara Jawa sana. Ini kami tempuh karena alasan menghemat waktu dan biaya. Jika kami mempergunakan mobil angkutan umum, akan menempuh waktu 5-6 jam sampai disana ditambah lagi ongkos yang mencapai 35 ribu rupiah per orang sekali jalan. Bisa dibayangkan jika kami sekali jalan akan menghabiskan lebih 100 ribu rupiah. Ditambah anak dan istri yang hampir dipastikan akan menderita mabuk dalam perjalanan. Jika naik kendaraan bermotor roda 2, waktu tempuh 3 jam dan biaya sekitar 30 ribu rupiah saja. Lebih hemat.

Ketika hari Raya Idul Fitri, menjadi salah satu waktu yang harus kami alokasikan untuk kesana. Hari-hari terakhir bulan puasa, menjadi waktu untuk mempersiapkan keberangkatan kami. Pada waktunya hari dimana kami akan berangkat, pagi-pagi kami mempersiapkan segala sesuatunya. Dari baju dan tetekbengeknya, jajanan untuk diperjalanan (karena kami terbiasa istirahat sambil minum dan makan jajanan sekedarnya).

Pagi itu saya mendengar istri di ruang tengah menggerutu. Karena dia membutuhkan seutas tali rafia untuk memperkuat sesuatu bungkusan yang akan kami bawa. Pagi itu saya ikut sibuk mencari, anak kami-pun ikut sibuk mencari (walaupun pada akhirnya malah menambah repot karena malah mengobrak-abrik semuanya). Heboh benar pagi itu untuk mencari si tali rafia. Ternyata membutuhkan waktu tidak sedikit untuk mencari si tali rafia ketika itu. Padahal pada kesempatan lain, kadang kami membuang begitu saja tali rafia bekas yang ada. Pencarian ini tentu saja menambah pekerjaan karena masih banyak barang lain yang harus disiapkan, maklum berkendaraan roda dua membutuhkan kejelian untuk menata barang agar tidak makan tempat dan prioritas barang yang kemungkinan akan diambil di perjalanan tidak berada jauh dibawah tumpukan barang lainnya.

Kejadian di pagi itu, memberikan kepada saya betapa diperlukannya sebuah benda sekecil tali rafia. Yang secara “semena-mena” kadang kami buang dengan tanpa memikirkan secara jauh ke depan akan kegunaannya di masa yang akan datang. Kadang tali rafia ini “datang” ke rumah kita dengan sengaja atau tidak sengaja. Jika kita membelinya maka dapat dikatakan sengaja, namun dalam pengalaman sehari-hari lebih banyak kedatangan tali rafia ini ke rumah kita karena “menyertai” barang yang datang / dibawa ke rumah kita.

Dan lebih jauh hal ini memberikan saya gambaran bahwa dalam kehidupan kita, ada saja seseorang yang seberguna rafia, namun kadang terlupakan. Dalam pekerjaan, ada saja orang yang dengan “enteng tangan” mau membantu kita untuk memfotokopikan naskah pekerjaan kita, mengambilkan kertas, membuatkan segelas air teh, atau bahkan menyapu ruangan kantor di pagi hari. Kadang mereka dianggap sepele dan terhadap mereka (kadang) cara pandang kita kurang pantas, hanya karena pekerjaannya, namun ketika mereka tak ada terasa ada bagian dari lingkaran pekerjaan yang hilang. Bagaimana repotnya ketika kita diharapkan menyelesaikan pekerjaan, sementara secara bersamaan kita harus memfotokopi beberapa lembar kertas pekerjaan repotnya lagi di tempat foto kopi keadaan ramai dan masih harus antri, capeek deh. Jika suatu hari beliau ini tidak hadir, maka bisa jadi orang / teman-teman sekerja yang mempertanyakan ketidakhadirannya pasti banyak yang pasti diikuti rasa “kehilangan” karena ketidakhadirannya.

Begitu pula di dalam bermasyarakat, ada kalanya kita memiliki warga / tetangga yang menurut pandangan kita “terlampau enteng tangan” dalam membantu sesama warga lain, dan bantuan tersebut menjadi hal yang sangat terasa ketika suatu saat kita mendapatkan bantuannya, dan akan kehilangan ketika yang orang tersebut tidak muncul ketika dibutuhkan. Bagi sementara orang terkadang hal tersebut menjadi hal yang aneh, namun pada saatnya mereka akan memberikan sumbangan / kontribusi yang sangat nyata, baik dalam kehidupan bermasyarakat maupun dalam hubungan antar pribadi.

Disadari atau tidak, mereka ini merupakan pribadi yang unik. Selalu menikmati pekerjaannya dan jauh dari pamrih serta mau melakukan sesuatu hal dengan cara yang kadang tidak kita bayangkan. Keberadaan mereka menjadi bagian dari keseharian kita, dan mereka layak untuk mendapatkan penghargaan lebih baik dari siapapun. Bukan dengan materi yang berlebih, atau ucapan terima kasih yang berlebihan sehingga kita sampai terbungkuk-bungkuk mengucapkannya, namun cara pandang yang lebih baik dan lebih pantas bagi mereka merupakan suatu hal indah yang dapat kita lakukan. Dan saya yakin itu hal yang sangat mudah, amat sangat mudah.

Itulah, jika mau sejenak melihat sekeliling, kita akan menyadari bahwa terdapat seseorang yang menjadi “tali rafia” di sana. Tetap semangat !

(tulisan ini dibuat pada tahun 2008)