Kamis, 15 Juli 2010

ANGIN DAN AWAN

Alkisah, suatu waktu terjadi komunikasi antara awan dengan angin. Ini terjadi karena si Angin melihat si Awan yang kerjanya hanya berjalan kesana kemari seolah tanpa tujuan dan tidak memiliki kekuatan yang memadai, karena hal tersebut timbul sifat iseng si Angin untuk berusaha mengerjainya. “Hai Awan, mari kita tunjukkan siapa yang paling kuat diantara kita !” tantang si Angin kepada Awan. Sang Awan dengan kalem menjawab, “Baik, apa yang akan kau jadikan tantangan ?”. Si Angin menjawab dengan pongah, “Kamu lihat seseorang dengan baju merah muda dibawah itu, bagaimana jika kita adu kekuatan sehingga orang tersebut menanggalkan pakaiannya”. “Siapa yang dapat membuat orang tersebut menanggalkan pakaiannya, maka dialah pemenangnya,” tambah si Angin lagi. “Baik, aku terima tantanganmu” kata Awan.

Memang, tepat di saat itu terdapat seseorang pria yang sedang berjalan. Orang tersebut berpakaian (tentunya). Dan dia tidak menyadari apa yang akan terjadi, dan dirinya menjadi barang pertaruhan.

“Aku duluan !” kata Angin. “Silahkan” kata Awan. Kemudian si Angin mempersiapkan diri untuk segera beraksi. Sesaat kemudian dia meniupkan angin. Mula-mulai sepoi-sepoi kemudian mulai kencang, semakin kencang dan semakin kencang. Sekencang-kencangnya angin meniup, yang ditujukan kepada orang di bawah tadi. Apa yang terjadi dengan pakaian orang tersebut apakah tanggal ?

Begini ceritanya, ketika sang Angin meniupnya dengan pelan dia merasa enak karena di siang terik ini ada angin yang sepoi, namun ketika semakin kencang angin bertiup, reaksi orang tersebut adalah menahan pakaiannya agar tidak terbawa oleh angin. Semakin kencang angin yang bertiup, semakin kencang pula orang tersebut mempertahankan pakaiannya agat tidak lepas. Hingga beberapa saat lamanya hal ini terjadi, terengah-engah si Angin meniup, namun baju orang tersebut tidak lepas juga.

“Kini giliranku,” kata si Awan. Kemudian dia beraksi, dengan pelan dia menyingkir, memberikan kesempatan kepada matahari untuk bersinar terik tepat mengenai orang tadi dan lingkungan sekelilingnya. Setelah beberapa saat, orang tersebut merasa gerah karena sinar matahari sangat menyengat kulitnya, gerah itu ditambah lagi dengan baju yang masih dipakainya. Maka setelah beberapa saat ia membuka bajunya untuk mengurangi rasa panas yang diakibatkan oleh terik sinar matahari yang tidak terlindungi oleh awan.

“Bagaimana ?” tanya Awan kepada Angin. Namun Awan tidak mendengar jawaban dari Angin, ternyata si Angin telah pergi dengan membawa rasa malu akibat kepongahannya menyepelekan awan yang selama ini kadang berpindah tempat dengan mengikuti tiupan angin darinya.

Pembaca yang budiman, apa yang dapat kita petik dari kisah diatas adalah bahwa terdapat kekuatan, kepandaian, kemampuan yang mungkin tidak kita sadari dimiliki oleh orang lain. Kekuatan, kepandaian ataupun kecakapan yang kita miliki saat ini adalah milik kita. Kita bisa memahami kemampuan kita, cara menyelesaikan masalah yang biasa kita tempuh, atau apapun yang kita lakukan dengan cara kita. Namun kadang kita tidak menyadari bahwa terdapat orang lain, yang mungkin menghadapi masalah yang sama namun memandang dari sudut yang berbeda dan penyelesaian yang berbeda pula bahkan (terkadang) penyelesaiannya lebih baik daripada cara yang kita tempuh selama ini. Artinya, ada baiknya kita memberikan peluang seluas-luasnya kepada siapapun orang-orang di sekitar kita untuk berkesempatan berpikir, berupaya / berusaha, mengeluarkan kepandaiannya, kemampuannya, kekuatannya dalam menghadapi permasalahan.

Bisa jadi kita dalam situasi permasalahan pribadi bagi anda yang remaja, ada banyak pihak yang dapat dimintai pendapat. Kejadian yang tidak kita inginkan bersama berawal dari kurangnya seorang remaja meminta pendapat / nasehat kepada orang yang tepat untuk menyelesaikan permasalahannya. Begitu pula bagi anda siapapun dan dalam profesi apapun, orang lain dapat saja menjadi salah satu rujukan dalam menyelesaikan masalah. Bagaimana jika orang tersebut justru tidak membantu menyelesaikan masalah kita. Itu artinya anda salah memilih orang, maka bijaklah dalam memilih orang untuk anda ajak komunikasi. Salah – salah anda terjerumus dalam masalah yang lebih dalam.

Sampai disini sampai jumpa bulan depan. Ada kurang dan salahnya mohon maaf dan TETAP SEMANGAT !

KISAH ANAK ELANG

Sore itu udara agak panas, sisa dari panas teriknya sang surya pada siang harinya masih terasa. Seorang petani pulang dengan membawa alat kerjanya, cangkul di pundaknya dan wadah bekal makan siangnya yang saat ini telah kosong ditenteng di tangan kirinya. Isi wadah, yang berupa nasi, sayur dan lauk masakan istri tercintanya telah berpindah kedalam perutnya siang tadi dan memberinya tenaga yang membuatnya dapat menyelesaikan garapan di sawah hari itu. Ketika sampai di pinggiran kampung, tepat dibawah sebuah pohon besar tanpa sengaja sang petani menemukan seekor anak burung yang tergeletak diatas tanah. Mungkin dia jatuh dari sarangnya atau diambil paksa oleh hewan pemangsa dan terjatuh, entahlah. Si anak burung menciap dan berusaha menggerakkan sayapnya yang belum sempurna betul. Kakinya-pun coba untuk ia gerakkan namun apa daya, kekuatan ototnya belum memadai untuk membawanya berlari. Apalagi terbang. Demi melihat hal itu, sang petani merasa kasihan. Dibawanya anak burung ke rumah.

Sebagaimana layaknya petani lainnya, selain menggarap sawah / ladang untuk menopang hidupnya mereka juga beternak unggas. Demikian juga dengan sang petani ini, dia juga memiliki puluhan ayam kampung yang diternakkan. Kebetulan saat itu terdapat satu induk ayam yang sedang menetaskan telur-telurnya. Sebagian sudah menetas dan sebagian lagi belum. Sang petani kemudian memasukkan burung kecil tadi ke dalam sangkar ayam, dicampurnya dengan anak-anak ayam dan telur lainnya.

Ketika telur telah menetas seluruhnya, induk ayam turun dari sangkar sambil mengajak anak-anaknya untuk mengenal dunia, dia tidak menyadari bahwa terdapat “anak selundupan” dalam keluarganya yaitu seekor anak burung. Maklumlah, dia kan tidak bisa menghitung. Sebagaimana layaknya seekor induk, dia mengajarkan nilai-nilai kehidupan ayam kepada semua anaknya. Dari bagaimana mematuk yang baik, mencari makanan untuk dirinya sendiri, mengenali dan menghindari elang sebagai musuh utama, menghindari tempat yang terlampau tinggi agar tidak terjatuh, cara tidur, bertoleransi dengan ayam lain, cara berkelahi dan bertarung memperebutkan makan dengan ayam lain, hingga cara menghindar jika kalah bertarung yaitu lari secepatnya.

Tak terasa, waktu telah sekian lama berlalu. Anak-anak ayam telah beranjak sedikit dewasa. Bagaimana nasib si anak burung ? Dia menjadi “ayam” yang baik. Tiap hari berjalan kesana-kemari, cekatan, larinya cepat, pintar mencari makan. Hingga pada suatu saat dia berpikir, ah seandainya aku bisa jadi seperti burung elang musuh kami, terbang kesana kemari dengan kepakan sayapnya yang gagah. Namun cita-cita itu dikuburnya dalam-dalam, jangankan jadi elang kepada Si Jago saja dia segan. Karena dia sebagai bapak dari ayam-ayam lainnya (maklum jagonya cuma satu) selain itu Si Jago merasa semua ayam sang petani perlu perlindungannya dan dia akan mengusir setiap ayam jago lain yang masuk “wilayah kekuasaannya”, pokoknya dimata si anak burung Si Jago memang jagoan abis. Dan dia ingin jadi seperti itu. Dia bercita-cita kelak ingin jadi pelindung banyak ayam, dihormati oleh mereka serta disegani oleh ayam-ayam lain. Sebuah cita-cita mulia bukan?

Namun cita-cita itu tidak pernah kesampaian. Bukan karena dia keburu disembelih sang petani, namun ada kejadian hari itu yang membuat perhitungan dan kehidupannya menjadi berubah. Begini ceritanya.

Suatu siang yang terik dia bermain sendirian di tanah lapang. Tiba-tiba ayam-ayam lainnya riuh mengeluarkan suara isyarat akan datangnya bahaya. Rupanya seekor burung elang mengintai dari ketinggian angkasa sana. Mencari mangsa untuk dimakannya. Si anak ayam yang sejatinya burung ini tidak sempat menghindar, tidak ada tempat berlindung dan dia terjebak ! Ketika dia menangis dan menjerit sekeras-kerasnya karena ketakutan dan meratapi nasibnya yang sebentar lagi akan menjadi santapan elang, dia kaget. Karena elang tidak membawanya namun justru berdiri gagah disampingnya. Elang gagah itu berkata “Hai, kau adalah elang. Bagian dari kami, ayo terbang bersamaku dan mengarungi angkasa !”. Olala, ternyata si anak ayam selundupan tersebut adalah seekor anak elang. Begitu dia mendengar kata-kata elang, si-anak ayam eh anak elang ragu-ragu. Apa iya aku bisa.

“Ayo kepakkan sayapmu, arungi angkasa, jadilah makhluk kuat sekarang !” teriak elang kepada anak elang yang masih tertegun. Kemudian anak elang mulai mengepakkan sayapnya, pelan-pelan hingga berhasil terbang. Ketika lama kelamaan dapat menguasai dirinya, dia terbang dengan gagahnya. Sebagaimana dia cita-citakan dahulu. Dia selama itu tidak menyadari bahwa dirinya adalah seekor burung elang yang hidup dalam habitat ayam dan unggas lainnya.

Pembaca budiman, anda, saya - kita semua - adalah elang itu. Mari kita lihat seluas-luasnya dunia dan buat semua kemungkinan menjadi kenyataan dengan memperluas wawasan kita jauh diatas, setinggi mungkin. Karena jika kita membatasi cara pandang dan wawasan kita maka niscaya kita akan jadi seekor burung elang yang berada di kehidupan ayam. Dan untuk menjadikan diri kita membuka wawasan lebih luas diperlukan sebuah usaha keras. Tidak hanya berpangku tangan. Karena kita terkadang tidak menyadari jika memiliki potensi yang sangat luar biasa. Anda, saya - kita semua - memiliki potensi itu, keluarlah dari dunia ayam sekarang juga, jelajahilah dunia elang dengan pandangan yang tajam dan kepakkan sayap yang gagah. Yakinlah bahwa kita adalah elang. TETAP SEMANGAT !

HUTANG IBUNDA

Dalam sebuah rumah yang terletak di pinggiran suatu kota.
Seorang anak kelas 2 SD bernama Dinda sedang “marahan” dengan ayah dan ibundanya. Masalahnya sepele, dia merasa perhatian kedua orang tuanya tidak lagi penuh. Dia mengambil kesimpulan diatas karena akhir-akhir ini beberapa keinginannya tidak di tanggapi oleh kedua orang tuanya.
Suatu saat bundanya berkata : “ Bisnis ayah sedang tidak baik nak, kita mesti pandai berhemat.”
Atau di lain kali dia diberi tahu bahwa mereka harus berhemat karena harga kebutuhan sehari-hari merangkak naik karena menjelang bulan puasa dan lebaran.
Namun Dinda gadis mungil yang mulai dapat menganalisis tersebut berguman dalam hati, “Ah, masak begitu sih...aku kan juga pingin mendapatkan uang untuk membeli boneka spongebob seperti milik Rahma, atau beli binder seperti teman-temannya sehingga dapat saling tukar kertasnya .....kan asyik.”
Banyak sudah alasan disampaikan oleh ayah dan bundanya, namum Dinda tetap pada pendiriannya. Pokoknya minta uang untuk memenuhi keinginannya. Titik !.
Kedua orang tuanya geleng-geleng kepala dengan keinginan anak semata wayangnya. Hingga suatu siang ...ketika ...

Pukul 11.30
Ibunda sedang memulai memasak. Namun aktifitasnya terhenti karena melihat secarik kertas biru muda yang menempel di dinding dapur, dengan tulisan yang kurang rapi. Segera dia mengenal tulisan itu yaitu tulisan Dinda.
Begini isinya :
DAFTAR HUTANG BUNDA KE DINDA
1. Membantu mencuci piring Rp. 2.000,-
2. Membantu menyapu lantai dalam rumah Rp. 4.000,-
3. Membantu menyapu halaman Rp. 5.000,-
4. Membantu membelikan gula ke warung Bu Tik tempo hari Rp. 2.000,-
5. Membantu menyiram tanaman kesayangan ibu Rp. 3.000,-
6. Membantu membawakan belanjaan ibu dari pasar Rp. 4.000,-
7. Membantu memberikan kue buatan ibu ke rumah Tante Yuli Rp. 2.000,-
8. Mendapat nilai bagus dan tidak lagi ngobrol di kelas Rp. 4.000,-
Jumlah hutang ibu semuanya Rp. 26.000,-
Tertanda
DINDA
Rupanya sepulang dari sekolah tadi, putri kecilnya menulis surat tersebut sebelum pergi bermain ke rumah sebelah.
Dengan sabarnya Bunda segera mengambil kertas itu dan menuliskan beberapa untaian kata dibaliknya.

Pukul 16.15...
Dinda terbangun dari tidur siangnya. Sembari menggeliat bermalas-malasan dia tertegun. Melihat kertas biru muda yang tadi dia tempelkan di dapur. Yang isinya berisi tulisan sebagai bentuk protes, karena dia tidak mendapatkan beberapa keinginannya selama ini.
“Kenapa kertas ini ada di atas kasurku,” pikir Dinda.
Segera dia meraih dan membaca sederet tulisan dibalik lembar yang berisi tulisannya.
Setelah membaca semua tulisannya, dia sontak turun dari tempat tidurnya. Satu hal yang dia lakukan. Segera mencari Bunda !
Ketika itu Ibundanya sedang menyiram bunga di depan rumah, tanpa basa-basi Dinda segera memeluknya erat dengan tersedu-sedu, sambil berbisik ...”Maafkan Dinda, Bunda.”
Bunda mengangguk sambil tersenyum tulus. Sangat tulus. Dan senyuman itu membuat sore itu menjadi waktu terindah bagi mereka berdua.
Ups hampir lupa .....apa gerangan tulisan yang dibaca Dinda ...
Ini dia ...
DAFTAR BIAYA YANG IBU KELUARKAN UNTUK DINDA
1. Biaya mengandung Rp. 0,-
2. Biaya melahirkan dengan taruhan nyawa Rp. 0,-
3. Biaya mengasuh hingga saat ini Rp. 0,-
4. Biaya memasak setiap hari bagi Dinda Rp. 0,-
5. Biaya sekolah Rp. 0,-
6. Biaya mengantar ke sekolah Rp. 0,-
7. Biaya les Rp. 0,-
8. Biaya mengantar les Rp. 0,-
9. Biaya mengantar dan berobat ke dokter Rp. 0,-
Hutang Dinda ke Ibu adalah Rp. 0,- (LUNAS !)
Selamat memperingati Hari Ibu.
Tetap Semangat !!!

SAWAH PAK TUA

Alkisah terdapat dua orang petani yang memiliki tanah sawah berdampingan dengan tingkat kesuburan yang sama. Sepetak sawah sebelah utara dimiliki oleh seorang lelaki tua. Sedangkan sepetak sawah disebelah selatan dimiliki oleh seorang yang masih muda. Pak Tua memiliki sifat yang rajin, ceria, senang membantu dan memiliki sifat kekeluargaan yang sangat tinggi. Sedangkan si petani muda adalah seseorang yang memiliki sifat tertutup, tidak suka bergaul, selalu menyalahkan pihak lain dan pengumpat. Sehingga di masyarakat dia dijuluki Pak Cemberut. Karena mukanya yang selalu masam / cemberut.

Ketika musim tanam telah dimulai, keduanya juga memulai proses menanam padi secara bersamaan. Karena biasanya musim tanam dilaksanakan secara serempak dalam satu hamparan sawah. Tidak ada yang istimewa dengan keduanya. Ketika yang lain mencangkul sawahnya, maka kedua orang ini juga mencangkul, ketika orang lain mulai menanam, mereka juga menanam, begitupun ketika saat petani lain memberi pupuk maka mereka berdua-pun demikian, begitu seterusnya.

Ketika pada saat panen tiba, maka semua petani memotong padi hasil jerih payahnya selama ini. Jerih payah dalam menjalankan kewajibannya menanam dan merawat tanaman padinya. Harapan besar mereka adalah mendapatkan hasil panen yang sangat banyak. Semua orang pasti demikian bukan ? Namun apa daya, hasil panen Pak Tua selalu lebih baik dari hasil panen Pak Cemberut. Hal tersebut selalu terjadi setiap musim panen. Ini selalu membuat Pak Cemberut bingung. Entah siapa yang dapat mengurai permasalahannya. Karena, di sawah mereka mengolah tanah dan tanamannya dengan perlakuan yang sama.

Dan jika ini terjadi, maka seperti biasanya Pak Cemberut mulai memaki-maki, menyalahkan tanahnya yang tidak subur, menyalahkan penjual bibit yang menurut pandangannya berbohong dengan memberi bibit yang jelek, menyalahkan petugas pengairan yang dianggap tidak becus bertugas membagi air, menyalahkan penjual pupuk dengan kalimat sumpah serapah dan seterusnya.

Suatu saat ketika Pak Cemberut menyumpah serapah atas kegagalan panennya, kebetulan lewat seorang ahli pertanian. Dia mendekati Pak Cemberut dan bertanya, “Kenapa Bapak menyumpah serapah banyak orang ?” Mendengar pertanyaan itu Pak Cemberut menyampaikan semua keluhannya, hasil panennya tidak seperti hasil panen Pak Tua bahkan petani lain. Jumlahnya selalu sedikit, katanya. Dan dia menyalahkan semua pihak yang diduga menjadi penyebab kegagalannya. Maka disebutnya satu persatu orang-orang yang selalu disebut-sebut sebagai pihak yang bertanggungjawab atas kegagalannya. Sang Ahli Pertanian manggut-manggut.

Esok harinya, demi membantu menyelesaikan permasalahan hasil panen Pak Cemberut, oleh Ahli Pertanian diadakan analisis sawah dan hasil pertanian Pak Cemberut. Hasilnya sungguh diluar dugaan. Tidak ada bibit dan pupuk palsu seperti yang dituduhkan, air tercukupi. Apa gerangan yang membuat hal tersebut terjadi ? Dari hasil pengamatan, ternyata selama ini dalam mengelola sawahnya dia membeli bibit dan pupuk yang bermutu jelek, mencangkul dengan sekenanya, jadwal pemberian pupuk yang tidak memenuhi kaidah pertanian, malas mengurus aliran air ke pematangnya. Hal ini ditambah dengan kebiasaannya mengeluarkan sumpah serapah sehingga orang malas berhubungan dengannya. Jadilah dia orang yang tidak memiliki teman atau sahabat yang seharusnya dapat memberikan masukan kepadanya akan kelemahan-kelemahan selama ini. Berbeda dengan Pak Tua, karena rajin dan supel dia dapat melaksanakan pengelolaan sawah dengan baik. Dia selalu membeli pupuk dan bibit dengan mutu terbaik, mencangkul dan memupuk sesuai dengan kaidah pertanian serta selalu memberikan cukup air ke lahannya. Selain itu informasi tentang akan datangnya hama didapat dari teman-temannya yang banyak, sehingga dia dapat mengantisipasi terlebih dahulu.

Pembaca yang budiman, dari kisah diatas dapat kita ambil teladan bahwa, apapun “sawah” kita sekarang baik dalam bentuk pekerjaan, tempat dimana kita bekerja, usaha / bisnis, proses pendidikan / sekolah mengharuskan kita untuk selalu mengelolanya dengan baik. Menjaganya, mengatur dan merawat. Sekali kita menjelek-jelekkan pekerjaan, lembaga dimana tempat kita bekerja, teledor dalam menjalankan usaha / bisnis yang digeluti atau malas belajar bagi yang sedang menuntut ilmu di sekolah, maka kita -bisa jadi- akan mendapat balasan yang setimpal. Yaitu hasil yang tidak maksimal. Untuk itu jagalah “sawah” kita dengan baik agar dapat memberikan hasil terbaiknya. Jangan kita rusak, karena apapun kerusakannya, maka kita jugalah yang kelak akan menanggung akibatnya.

Sekian, TETAP SEMANGAT !!!

Tulisan ini terinspisari dari wejangan Alm. Bapak Untung Sadermo.

JUBAH KEBAHAGIAAN

Suatu waktu, tersebutlah seorang raja yang sangat kaya raya. Negerinya sangat indah dan kaya. Dan dari waktu ke waktu sang raja - dengan kekuatan tentara dan persenjataannya yang sangat memadai - menguasai kerajaan-kerajaan di sekitarnya, sehingga semakin kayalah dia. Banyak sudah emas permata yang disampaikan kepadanya sebagai tanda takluk dari kerajaan lain, belum lagi dengan banyaknya istana dan para pelayan serta para prajuritnya, yang siap untuk memberikan pelayanan terbaik mereka kepada junjungannya tersebut. Maka dari itu sang raja selalu dapat konsentrasi untuk menumpuk kekayaannya. Baik untuk dirinya maupun kerajaan yang ia pimpin. Namun dengan sangat banyaknya kekayaan yang dia miliki tidak membuat dirinya tenang. Tidur tidak nyenyak dan hati selalu gundah. Ada saja yang dia pikirkan dan khawatirkan. Terutama berkaitan dengan bagaimana cara untuk menambah kekayaan dan mempertahankan tanah jajahannya.

Hal ini membuat dirinya sibuk berpikir, bagaimana caranya agar dia dapat merasa tenang dan tidak lagi gundah. Banyak cara sudah dia tempuh. Dengan menyuruh tabib untuk membuat obat penenang, obat yang membuat tidur dan lain-lain. Namun hal tersebut tidak membuatnya tenang, karena setelah habis masa kerja obat tersebut dia kembali ke rasa gundahnya. Para tetua istana-pun telah dimintainya nasehat, namun apa daya, nasehat yang diberikan belum membuahkan hasil.

Hingga suatu hari dia mendengar terdapat seorang bijak yang selalu memberikan nasehat kepada yang membutuhkan. “Mungkin orang ini dapat memberikan pencerahan kepadaku,” pikir Raja. Maka segera dia mengutus prajuritnya untuk membawa Orang Bijak tersebut ke istana. Singkat cerita, sampailah Orang Bijak di istana. Segera dia dihadapkan kepada Raja, yang segera menceriterakan keluhannya dan sekaligus minta nasehat agar terbebas dari masalah yang dia hadapi. Setelah mendengar keluhan sang Raja, si Orang Bijak berpikir sejenak sambil mencari tahu apa yang menjadi keinginan sang Raja.

“Mohon maaf Baginda, sebenarnya apakah yang hendak paduka inginkan?” tanya Orang Bijak.

“Aku ingin bahagia,” jawab Raja.

Orang Bijak kemudian berkata, “Tuanku akan segera bebas dari keluhan yang disandang saat ini, jika saja Tuanku mau untuk memakai Jubah Kebahagiaan. Jubah ini dimiliki oleh seseorang yang paling bahagia.”

“Bagaimana cara agar aku bisa mendapatkan jubah itu,” tanya Raja.

“Mudah Baginda, cari seseorang yang paling bahagia di negeri Paduka yang sangat luas ini. Mintalah jubahnya dan segera Paduka pakai. Maka niscaya Paduka akan menjadi orang yang bahagia.”

Mendengar hal tersebut, sang Raja segera memerintahkan para prajuritnya untuk menyisir seluruh negeri demi mencari orang yang paling bahagia. Segera saja para prajurit mencari ke seluruh penjuru kerajaan. Setelah beberapa hari, prajuritnya memberikan laporan bahwa telah diketemukan orang yang paling bahagia. Betapa senangnya sang raja.

“Mana jubah yang dimiliki oleh orang itu,” tanya Raja.

“Ampun beribu ampun Baginda, memang kami telah menemukan orang yang paling bahagia di seluruh negeri, namun dia tidak memiliki jubah. Karena jangankan jubah, baju saja dia tidak memiliki banyak.”

Demi mendengar jawaban tersebut, marahlah sang raja. Kemudian dipanggilnya Orang Bijak dan Orang Paling Bahagia tersebut untuk menghadapnya ke istana.

“Kenapa kau permainkan aku, hai Orang Bijak. Ternyata orang paling bahagia di seantero negeri tidak memiliki jubah apapun ! Sebelum kupenggal kepalamu karena telah mempermainku, apa pembelaanmu !”

“Ampun Baginda,” kata orang bijak, “Orang ini memang tidak memiliki apapun yang dimiliki oleh Baginda, namun dia memiliki kebahagiaan. Dan jubah itu hanya ada di hati kita masing – masing. Jubah hamba ibaratkan sebagai pelindung diri dan jiwa kita. Jika kita diliputi kebahagiaan maka saat itulah kita memiliki jubah tersebut. Dan Orang Paling Bahagia ini memiliki diri dan jiwa yang bahagia dengan segala kekurangan dan kesederhaannya. Hal pokok Baginda, hamba akan mengatakan bahwa kekayaan apapun bentuknya, tidak mesti memberikan kepada kita kebahagiaan. Seperti yang dialami paduka saat ini. Namun bahagia dapat berasal dari kesederhaan dan kesahajaan.”

Mendengar penjelasan tersebut sang raja manggut-manggut mengerti.

Pembaca, saudaraku semua…

Kadang bersahaja menjadi pilihan banyak orang untuk menjalani hidupnya.
Kesahajaan dapat dilakukan oleh siapapun, baik tanpa memandang kaya dan miskin. Karena banyak disekitar kita seseorang kaya yang hidup bersahaja. Dan kuncinya adalah mereka ingin mendapatkan kebahagiaan dengan kesahajaan dan kesederhaannya. Bagi seseorang yang kekurangan, bahagia-pun dapat terwujud sebagaimana kisah diatas. Sekali lagi…. bukan ukuran jika kekayaan dipergunakan untuk menakar kebahagiaan seseorang. Semoga kemudian hari kita dapat menjadi seseorang yang ikut merasakan indahnya dan bersyukur kepada Tuhan jika melihat orang lain, siapapun dia kaya-miskin, teman-orang lain, atasan-bawahan dan sebagainya yang mendapatkan anugerah kebahagiaan.

TETAP SEMANGAT !!!

MENEMBUS GUNUNG

Dikisahkan, terdapat sebuah kampung yang berada di seberang sebuah bukit pegunungan.Karena letaknya tersebut, membuat warga yang akan menuju ke kota untuk menjual hasil bumi, membeli keperluan hidup dan kegiatan lainnya, diharuskan mengambil jalan memutar hingga mengelilingi setengah dari perbukitan tersebut. Tentu saja ini membutuhkan waktu yang sangat lama. Belum lagi jalanan yang terjal dan berbatu.

Hingga suatu saat seorang kakek warga kampung memiliki keinginan yang dianggap aneh dan gila. Dia bercita-cita ingin membelah dan menembus pegunungan tersebut. Banyak orang mencemooh ketika suatu malam si kakek menceriterakan keinginannya tersebut.

“Kamu telah tua kek, tidak usah macam-macam,” kata salah satu dari mereka.

“Sudah bau tanah kok masih macam-macam” kata yang lain. Yang lainnya lagi tertawa berderai sambil mengejek.

Namun tekad sang kakek sudah bulat. Mulai esok hari dia akan membuat jalan menembus pegunungan. Harapannya adalah agar warga lainnya dapat berjalan menembus gunung tanpa harus mengambil jalan memutar lagi. Dan benar saja, keesokan harinya sang kakek mulai menggali bukit dengan alat seadanya. Waktu terus berlalu, hari berganti hari, bulan berganti bulan. Sedikit demi sedikit, bukit itu dikikisnya.

Melihat orang tuanya yang bekerja sendirian dan bukit telah mulai terkikis, anak lelakinya yang selama ini ikut mencemooh pekerjaan ayahnya tersebut mulai ikut menggali. Dengan tambahan tenaga anak lelakinya, maka lebih cepatlah proses penggalian tersebut dilakukan. Lama kelamaan mulai kelihatan bentuk bakal jalan yang merupakan hasil penggalian keduanya.

Melihat semangat kedua orang tersebut, dan mulai kelihatan bentuk dari bakal jalan yang dibuat, warga lainnya ikut membantu dengan alat-alat mereka. Yang pria ikut mencangkul sedangkan kaum wanitanya ikut menyingkirkan tanah hasil cangkulan. Bersemangat sekali mereka bekerja. Sehingga bukit yang tadinya menggunung kini sedikit demi sedikit terbelah oleh sebuah jalan yang dibuat oleh warga kampung.

Dengan selesainya jalan tersebut, membuat warga dapat lebih cepat menuju kota, bahkan kini banyak saudara – saudara yang selama ini malas datang ke kampung mereka karena jauh menjadi lebih sering datang. Mereka patut berterima kasih pada kakek yang telah memiliki cita-cita besar membuat jalan dengan membelah bukit.

Pembaca yang budiman,

Ada lagi kisah yang akan kami tuturkan dibawah ini. Ini kisah nyata yang terjadi pada tahun 1988. Dimana pada saat itu terdapat nama yang ramai diperbincangkan orang. Nama tersebut adalah Ibu Eroh, waktu itu berumur kurang lebih 50 tahun, dia warga Kampung Pasirkadu, Desa Santana Mekar, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.

Apa yang membuat nama Ibu Eroh banyak disebut?

Itu karena Ibu Eroh, bergelantungan seorang diri di lereng yang tegak di tebing cadas, di lereng timur laut Gunung Galunggung. Ibu Eroh berhasil berjuang sendirian membuat saluran air selama 47 hari. Ketika pertama kali Ibu Eroh melakukannya, banyak masyarakat sekitar yang mencibir tindakannya. Tapi hal itu tidak menyurutkan langkahnya untuk terus bekerja. Ibu Eroh percaya akan kemampuan nya, walau saat itu usianya boleh dibilang tidak muda.

Ibu Eroh yang hanya mengecap pendidikan hingga kelas III SD dan memiliki tiga orang anak, dalam aksinya menggunakan tali areuy, tali sejenis rotan sebagai penahan ketika bergelantungan. Sedangkan alat yang dipakai untuk ‘mengebor’ tebing cadas hanyalah cangkul dan balincong, serupa linggis pendek.

Saluran untuk mengalirkan air dari Sungai Cilutung akhirnya berhasil diselesaikan.

Berhentikah tindakan Ibu Eroh mengebor tebing cadas? Belum.

Dengan semangat yang tak kenal menyerah, Ibu Eroh melanjutkan membuat saluran air berikutnya sepanjang 4,5 kilometer mengitari 8 bukit dengan kemiringan 60-90 derajat. Pengerjaannya kali ini dibantu oleh warga desa yang mau membantunya, setelah melihat dengan mata kepala sendiri hasil yang telah dilakukan Ibu Eroh. Dalam waktu 2,5 tahun, pekerjaan lanjutan itu terselesaikan dengan baik. Hasilnya? Bukan hanya lahan pertanian sawah Desa Santana Mekar yang terairi sepanjang tahun. Tapi juga dua desa tetangga yang ikut menikmati kucuran air hasil kerja keras Ibu Eroh setelah warganya membuat saluran penerus, yaitu Desa Indrajaya dan Sukaratu.

Aksi Ibu Eroh akhirnya sampai juga ketelinga Presiden Suharto. Atas aksinya yang tergolong berani dan memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat sekitar, Ibu Eroh mendapat penghargaan Upakarti Lingkungan Hidup pada tahun 1988. Setahun kemudian, dia juga meraih penghargaan lingkungan dari PBB.

Pembaca sahabatku semua,

Dua kisah di atas memberi hikmah bahwa sebenarnya kita (anda, saya dan semua orang) memiliki kepercayaan diri yang tinggi atas kemampuan yang dimiliki. Keberhasilan dalam hidup akan terjadi jika kita memiliki cita-cita, angan-angan, keinginan atau apapun bentuknya. Cita-cita, angan-angan dan keinginan tersebut akan terjadi jika kita berusaha untuk mewujudkannya. Bagaimana mewujudkannya ? kita harus melakukan sesuatu untuk memulainya dan melaksanakannya dengan tata cara yang tepat.

Kenapa kita harus melakukan sesuatu untuk memulainya? Karena tanpa kita pernah memulai, kita tidak akan pernah ketemu akhir penyelesaiannya. Sebagai contoh, jika anda tidak pernah mulai perjalanan, maka anda tidak akan pernah sampai tujuan bukan?

Mari kita bersama-sama mulai mengerjakan sesuatu untuk mencapai cita-cita besar kita. Tidak akan ada keberhasilan yang datang dengan tiba-tiba. Namun dengan melakukan hal - sekecil apapun - untuk menuju keberhasilan akan menjadikan hidup kita lebih bermakna. Daripada berdiam diri dan malas untuk berusaha.

Yakinlah bahwa diri kita memiliki kemampuan terpendam yang jauh lebih besar daripada yang kita ketahui dan pergunakan saat ini. Jika kita mau menggalinya, maka akan menjadi mukjizat yang sangat luar biasa !

Tetap semangat !!!


Cerita tentang Ibu Eroh diinspirasi oleh tulisan :

“Percaya Pada Kemampuan Diri Sendiri” oleh Sonny Wibisono.

CANGKIR CANTIK

Alkisah, sepasang suami istri ingin membeli kado ulang tahun perkawinan bagi sahabat terdekat mereka. Untuk itu mereka mencoba mencari barang / kado yang menurut mereka pantas dan baik. Setelah berkeliling kota, tibalah mereka ke sebuah toko yang menyediakan souvenir antik.

Setelah berkeliling toko, maka jatuhlah pilihan keduanya kepada sebuah cangkir yang sangat cantik. Bentuknya bagus dan catnya indah sekali dipandang mata.

“Lihat, cangkir ini sangat cantik,” kata suami kepada istrinya.

“Bentuk dan warnanya sangat indah… sangat mempesona,” kata istrinya.

Sekonyong-konyong cangkir itu berbicara. “Dulu aku bukan barang yang cantik. Aku hanya seonggok tanah liat. Dan berada dalam tanah yang gelap. Hingga suatu hari aku diangkat oleh seorang pembuat gerabah, karena ditarik paksa dengan tanah lainnya aku merasa kesakitan dan berteriak. Namun dia berkata. ‘Belum’. Kemudian aku diletakkan di atas roda berputar dan kemudian mulai diputar. Aku pusing, pusing sekali. Lagi – lagi aku berteriak. ‘Belum’ katanya lagi. Setelah itu aku di tonjok dan dipipihkan sehingga aku menjadi tersiksa. Aku berteriak lagi. ‘Belum’ katanya lagi. Tonjokan terus berlanjut. Walaupun aku terus berteriak kesakitan.

Ketika tonjokan berakhir aku justru dibuat berkeringat dengan di letakkan di lapangan. Aku dijemur. Kembali aku berteriak kepanasan. Namun teriakan itu justru membuahkan aku di masukkan ke dalam perapian yang membakarku. Aku berteriak sejadinya. Namun kalimat ‘Belum’ terus terdengar, setiap aku berteriak.

Akhirnya penyiksaan itu pun berakhir, setelah aku diangkat dan didinginkan. Kemudian diwarnailah diriku sehingga cantik. Legalah diriku. Namun belum berakhir … karena kemudian aku di masukkan kembali ke perapian yang lebih panas dari yang pertama tadi. Aku berteriak sekuatnya karena kesakitan saat itu.

Setelah penyiksaan ini berakhir, aku dibiarkan dingin. Dan kemudian aku di letakkan di sebelah sebuah cermin.

Di cermin aku dapat melihat bayangan diriku Wah… hampir aku tak percaya. Karena sekarang diriku menjadi sebuah bentuk baru yang sangat cantik dan indah. Setiap orang yang melintas pasti menyempatkan diri untuk memandangku dengan takjub. Aku sangat bangga dengan keadaaan diriku saat ini. Apalagi setelah melewati proses yang bagiku sangat menyakitkan.”

Kemudian suami istri itu membeli cangkir tersebut dengan harga yang tinggi. Untuk dipersembahkan sebagai tanda mata bagi sahabat terbaik mereka.

Pembaca, sahabatku semua,

Banyak tantangan dan cobaan dalam menghadapi hidup. Menyelesaikannya akan menjadikan kita lebih baik dimasa yang akan datang. Jangan hanya mengeluh karena tantangan yang dihadapi setiap hari semakin berat. Karena tempaan itu akan membuat kita semakin bermakna.

Tantangan apapun bentuknya, baik tantangan dalam kehidupan sehari-hari, tantangan pekerjaan, tantangan dalam belajar… akan membuat kita menjadi lebih baik jika kita dapat melewati, menyelesaikan dan memaknainya dengan cara yang tepat. Memang pada saat itu tidaklah menyenangkan, sakit, penuh penderitaan, dan banyak air mata. Tetapi inilah satu-satunya cara untuk mengubah kita supaya menjadi cantik dan memancarkan kemuliaan.

Semakin kita mampu menyelesaikan tantangan, maka kemampuan tersebut dapat dipergunakan sebagai modal dalam menyelesaikan tantangan lainnya di masa yang akan datang.

Bukan hal yang patut disesali jika sementara orang lain masih tertidur kita sudah berlari dalam rangka menyongsong masa depan kita.

Banggalah menjadi orang yang mempersiapkan diri dengan mau menghadapi tantangan (dan menyelesaikan pekerjaan yang menjadi kewajiban kita) secara lebih dini. Pahamilah bahwa ujian terhadap kita menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang supaya kita menjadi sempurna dan utuh. Sehingga dimasa yang akan datang kita akan dapat mengatakan : “Tempaan itu ternyata membuat diriku menjadi lebih baik. Padahal dahulu aku tidak menyadarinya.”

Jadikanlah diri kita untuk menjadi seseorang yang mau menghadapi tantangan dan siap lebih dini.

Tetap semangat !!!

TIGA CICAK

Alkisah pada suatu malam, dua ekor cicak bertemu di pojok atas ruang makan dari rumah milik seorang saudagar yang kaya raya. Ruangan tersebut baru beberapa jam yang lalu dipergunakan oleh sang saudagar untuk menjamu tamu-tamu terhormatnya. Mereka makan dan minum, berpesta di ruang tersebut. Ramai betul waktu itu. Kini semuanya telah usai. Semua hidangan dan pecah belahnya telah diangkat oleh para pelayan. Kini tinggal keheningan dan lampu yang temaran di ruangan tersebut. Pesta telah usai. Semua keluarga sang saudagar dan para pelayan telah tidur pulas. Sang saudagar pulas karena merasa puas dengan jamuan mahal yang dia suguhkan dan banyaknya tamu yang memuji, sementara para pelayan tertidur pulas karena lelah.

Kembali ke dua cicak tadi. Mereka ngobrol sambil menikmati heningnya malam. Leganya mereka berdua, karena semenjak tadi siang rumah tersebut ramai dengan orang-orang dan kesibukannya dalam mempersiapkan pesta dan puncaknya pada pelaksanaan pesta, ramai sekali. Dan kini telah sepi, sepi sekali. Sambil ngobrol, sesekali mereka berdua mengawasi keadaan sekitar. Siapa tahu ada nyamuk atau binatang kecil lain yang terbang atau lewat dekat-dekat mereka. Lumayan dapat untuk nambah makan malam.

Sambil menunggu datangnya “makan malam” mereka, sayup-sayup terdengar teriakan cicak lain. Entah apa yang terjadi sehingga membuat cicak tersebut berteriak. Demi mendengar teriakan tersebut, kedua cicak tadi mencari sumber suara. Pelan mereka berdua merayap di dinding, menuju arah suara, yaitu dapur. Sesampainya disana, mereka berdua mendapati lampu dapur yang menyala. Rupanya para pelayan lupa mematikannya. Dan di atas meja dapur masih terdapat satu gelas yang biasa dipergunakan pelayan untuk menuang minuman tehnya dan gelas tersebut belum sempat di cuci dan tehnya belum habis. Masih sepertiga gelas. Mungkin karena tergesa-gesa tadi. Didalam gelas terdengar kecipak dan suara cicak yang tadi terdengar oleh kedua cicak yang berada di ruang makan. Rupanya terdapat seekor cicak yang tercebur dalam gelas. Kasihan sekali, badannya basah kuyup. Dan dia berusaha melompat dengan kaki belakangnya dan menempelkan kaki depannya yang basah ke ujung gelas. Namun berkali-kali dia melompat, berkali-kali pula dia jatuh / turun lagi.

Melihat hal tersebut, kedua cicak yang baru datang berupaya menolongnya namun apa daya, jika mereka nekat menolongnya maka akan menjadi korban seperti yang dialami oleh cicak dalam gelas itu. Karena sisi dalam gelas telah licin oleh air teh. Akhirnya, setiap cicak dalam gelas teh melompat, mereka berdua berteriak. “Tidak bisa !” atau “Terlalu licin !” atau “Tak mungkin kau dapat naik !” atau lagi “Salahmu tidak hati-hati !” bahkan berkata “Kau tidak akan selamat !” dan kalimat-kalimat lainnya yang senada. Anehnya, cicak dalam gelas, malah semakin bersemangat berusaha melompat keluar. Ketika tiap kali lompatannya gagal, dan diteriaki oleh kedua cicak, maka dia berusaha lagi, lagi dan lagi. Akhirnya setelah lompatannya yang ke sekian kali cicak dalam gelas berhasil juga keluar dari kubangan air teh dalam gelas yang membuatnya basah kuyup kedinginan dan kecapekan.

Pertanyaannya, kenapa cicak dalam gelas dapat keluar ?

Begini, setelah keluar dari gelas cicak tersebut langsung menyalami dan berterima kasih kepada kedua cicak yang meneriaki dan memakinya. Apa pasal ? rupanya sang cicak dalam gelas adalah cicak yang tuli. Sehingga ketika kedua cicak tadi sibuk meneriaki dan memaki, cicak dalam gelas menganggapnya sebagai pemberian semangat dan dorongan. Kalimat yang dikeluarkan seperti “Tidak bisa !” , “Terlalu licin !” , “Tak mungkin kau dapat naik !” , “Salahmu tidak hati-hati !” bahkan “Kau tidak akan selamat !” tidak terdengar oleh cicak yang tuli tersebut, namun gerakan dan teriakan kedua cicak diatas justru memberikan semangat bagi cicak dalam gelas untuk semakin berusaha. Dan akhirnya berhasil.

Pembaca yang budiman. Kita kadang dalam posisi sebagaimana cicak yang berada dalam gelas. Artinya, kita dalam posisi berusaha meraih kesuksesan hidup, bekerja dengan baik, belajar dengan tekun. Dan diluar sana, ada saja orang – orang yang berusaha melemahkan mental kita. Melemahkan semangat kita, sehingga kita akan diajak menjadi bagian dari orang-orang yang malas, tidak konsentrasi, tidak bersemangat, cenderung apatis. Dan jika kita terbuai rayuan sehingga mau “mendengarkan” atau bahkan mengikuti omongan orang yang berupaya melemahkan mental kita, maka siap-siaplah kita untuk jatuh , tidak dapat mencapai kesuksesan dalam bekerja, belajar atau berusaha dan tetap berada dalam “gelas teh”. Akan menjadi korban karena tidak mau dan selalu merasa tidak mampu untuk berusaha bangkit serta lalai dalam menjaga semangat.

Mau bangkit atau jatuh dan tetap menjadi penghuni “gelas teh” selamanya, pilihan ditangan anda masing-masing. Selamat merenung dan TETAP SEMANGAT !!!