Kamis, 15 Juli 2010

TIGA CICAK

Alkisah pada suatu malam, dua ekor cicak bertemu di pojok atas ruang makan dari rumah milik seorang saudagar yang kaya raya. Ruangan tersebut baru beberapa jam yang lalu dipergunakan oleh sang saudagar untuk menjamu tamu-tamu terhormatnya. Mereka makan dan minum, berpesta di ruang tersebut. Ramai betul waktu itu. Kini semuanya telah usai. Semua hidangan dan pecah belahnya telah diangkat oleh para pelayan. Kini tinggal keheningan dan lampu yang temaran di ruangan tersebut. Pesta telah usai. Semua keluarga sang saudagar dan para pelayan telah tidur pulas. Sang saudagar pulas karena merasa puas dengan jamuan mahal yang dia suguhkan dan banyaknya tamu yang memuji, sementara para pelayan tertidur pulas karena lelah.

Kembali ke dua cicak tadi. Mereka ngobrol sambil menikmati heningnya malam. Leganya mereka berdua, karena semenjak tadi siang rumah tersebut ramai dengan orang-orang dan kesibukannya dalam mempersiapkan pesta dan puncaknya pada pelaksanaan pesta, ramai sekali. Dan kini telah sepi, sepi sekali. Sambil ngobrol, sesekali mereka berdua mengawasi keadaan sekitar. Siapa tahu ada nyamuk atau binatang kecil lain yang terbang atau lewat dekat-dekat mereka. Lumayan dapat untuk nambah makan malam.

Sambil menunggu datangnya “makan malam” mereka, sayup-sayup terdengar teriakan cicak lain. Entah apa yang terjadi sehingga membuat cicak tersebut berteriak. Demi mendengar teriakan tersebut, kedua cicak tadi mencari sumber suara. Pelan mereka berdua merayap di dinding, menuju arah suara, yaitu dapur. Sesampainya disana, mereka berdua mendapati lampu dapur yang menyala. Rupanya para pelayan lupa mematikannya. Dan di atas meja dapur masih terdapat satu gelas yang biasa dipergunakan pelayan untuk menuang minuman tehnya dan gelas tersebut belum sempat di cuci dan tehnya belum habis. Masih sepertiga gelas. Mungkin karena tergesa-gesa tadi. Didalam gelas terdengar kecipak dan suara cicak yang tadi terdengar oleh kedua cicak yang berada di ruang makan. Rupanya terdapat seekor cicak yang tercebur dalam gelas. Kasihan sekali, badannya basah kuyup. Dan dia berusaha melompat dengan kaki belakangnya dan menempelkan kaki depannya yang basah ke ujung gelas. Namun berkali-kali dia melompat, berkali-kali pula dia jatuh / turun lagi.

Melihat hal tersebut, kedua cicak yang baru datang berupaya menolongnya namun apa daya, jika mereka nekat menolongnya maka akan menjadi korban seperti yang dialami oleh cicak dalam gelas itu. Karena sisi dalam gelas telah licin oleh air teh. Akhirnya, setiap cicak dalam gelas teh melompat, mereka berdua berteriak. “Tidak bisa !” atau “Terlalu licin !” atau “Tak mungkin kau dapat naik !” atau lagi “Salahmu tidak hati-hati !” bahkan berkata “Kau tidak akan selamat !” dan kalimat-kalimat lainnya yang senada. Anehnya, cicak dalam gelas, malah semakin bersemangat berusaha melompat keluar. Ketika tiap kali lompatannya gagal, dan diteriaki oleh kedua cicak, maka dia berusaha lagi, lagi dan lagi. Akhirnya setelah lompatannya yang ke sekian kali cicak dalam gelas berhasil juga keluar dari kubangan air teh dalam gelas yang membuatnya basah kuyup kedinginan dan kecapekan.

Pertanyaannya, kenapa cicak dalam gelas dapat keluar ?

Begini, setelah keluar dari gelas cicak tersebut langsung menyalami dan berterima kasih kepada kedua cicak yang meneriaki dan memakinya. Apa pasal ? rupanya sang cicak dalam gelas adalah cicak yang tuli. Sehingga ketika kedua cicak tadi sibuk meneriaki dan memaki, cicak dalam gelas menganggapnya sebagai pemberian semangat dan dorongan. Kalimat yang dikeluarkan seperti “Tidak bisa !” , “Terlalu licin !” , “Tak mungkin kau dapat naik !” , “Salahmu tidak hati-hati !” bahkan “Kau tidak akan selamat !” tidak terdengar oleh cicak yang tuli tersebut, namun gerakan dan teriakan kedua cicak diatas justru memberikan semangat bagi cicak dalam gelas untuk semakin berusaha. Dan akhirnya berhasil.

Pembaca yang budiman. Kita kadang dalam posisi sebagaimana cicak yang berada dalam gelas. Artinya, kita dalam posisi berusaha meraih kesuksesan hidup, bekerja dengan baik, belajar dengan tekun. Dan diluar sana, ada saja orang – orang yang berusaha melemahkan mental kita. Melemahkan semangat kita, sehingga kita akan diajak menjadi bagian dari orang-orang yang malas, tidak konsentrasi, tidak bersemangat, cenderung apatis. Dan jika kita terbuai rayuan sehingga mau “mendengarkan” atau bahkan mengikuti omongan orang yang berupaya melemahkan mental kita, maka siap-siaplah kita untuk jatuh , tidak dapat mencapai kesuksesan dalam bekerja, belajar atau berusaha dan tetap berada dalam “gelas teh”. Akan menjadi korban karena tidak mau dan selalu merasa tidak mampu untuk berusaha bangkit serta lalai dalam menjaga semangat.

Mau bangkit atau jatuh dan tetap menjadi penghuni “gelas teh” selamanya, pilihan ditangan anda masing-masing. Selamat merenung dan TETAP SEMANGAT !!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar