Kamis, 15 Juli 2010

HUTANG IBUNDA

Dalam sebuah rumah yang terletak di pinggiran suatu kota.
Seorang anak kelas 2 SD bernama Dinda sedang “marahan” dengan ayah dan ibundanya. Masalahnya sepele, dia merasa perhatian kedua orang tuanya tidak lagi penuh. Dia mengambil kesimpulan diatas karena akhir-akhir ini beberapa keinginannya tidak di tanggapi oleh kedua orang tuanya.
Suatu saat bundanya berkata : “ Bisnis ayah sedang tidak baik nak, kita mesti pandai berhemat.”
Atau di lain kali dia diberi tahu bahwa mereka harus berhemat karena harga kebutuhan sehari-hari merangkak naik karena menjelang bulan puasa dan lebaran.
Namun Dinda gadis mungil yang mulai dapat menganalisis tersebut berguman dalam hati, “Ah, masak begitu sih...aku kan juga pingin mendapatkan uang untuk membeli boneka spongebob seperti milik Rahma, atau beli binder seperti teman-temannya sehingga dapat saling tukar kertasnya .....kan asyik.”
Banyak sudah alasan disampaikan oleh ayah dan bundanya, namum Dinda tetap pada pendiriannya. Pokoknya minta uang untuk memenuhi keinginannya. Titik !.
Kedua orang tuanya geleng-geleng kepala dengan keinginan anak semata wayangnya. Hingga suatu siang ...ketika ...

Pukul 11.30
Ibunda sedang memulai memasak. Namun aktifitasnya terhenti karena melihat secarik kertas biru muda yang menempel di dinding dapur, dengan tulisan yang kurang rapi. Segera dia mengenal tulisan itu yaitu tulisan Dinda.
Begini isinya :
DAFTAR HUTANG BUNDA KE DINDA
1. Membantu mencuci piring Rp. 2.000,-
2. Membantu menyapu lantai dalam rumah Rp. 4.000,-
3. Membantu menyapu halaman Rp. 5.000,-
4. Membantu membelikan gula ke warung Bu Tik tempo hari Rp. 2.000,-
5. Membantu menyiram tanaman kesayangan ibu Rp. 3.000,-
6. Membantu membawakan belanjaan ibu dari pasar Rp. 4.000,-
7. Membantu memberikan kue buatan ibu ke rumah Tante Yuli Rp. 2.000,-
8. Mendapat nilai bagus dan tidak lagi ngobrol di kelas Rp. 4.000,-
Jumlah hutang ibu semuanya Rp. 26.000,-
Tertanda
DINDA
Rupanya sepulang dari sekolah tadi, putri kecilnya menulis surat tersebut sebelum pergi bermain ke rumah sebelah.
Dengan sabarnya Bunda segera mengambil kertas itu dan menuliskan beberapa untaian kata dibaliknya.

Pukul 16.15...
Dinda terbangun dari tidur siangnya. Sembari menggeliat bermalas-malasan dia tertegun. Melihat kertas biru muda yang tadi dia tempelkan di dapur. Yang isinya berisi tulisan sebagai bentuk protes, karena dia tidak mendapatkan beberapa keinginannya selama ini.
“Kenapa kertas ini ada di atas kasurku,” pikir Dinda.
Segera dia meraih dan membaca sederet tulisan dibalik lembar yang berisi tulisannya.
Setelah membaca semua tulisannya, dia sontak turun dari tempat tidurnya. Satu hal yang dia lakukan. Segera mencari Bunda !
Ketika itu Ibundanya sedang menyiram bunga di depan rumah, tanpa basa-basi Dinda segera memeluknya erat dengan tersedu-sedu, sambil berbisik ...”Maafkan Dinda, Bunda.”
Bunda mengangguk sambil tersenyum tulus. Sangat tulus. Dan senyuman itu membuat sore itu menjadi waktu terindah bagi mereka berdua.
Ups hampir lupa .....apa gerangan tulisan yang dibaca Dinda ...
Ini dia ...
DAFTAR BIAYA YANG IBU KELUARKAN UNTUK DINDA
1. Biaya mengandung Rp. 0,-
2. Biaya melahirkan dengan taruhan nyawa Rp. 0,-
3. Biaya mengasuh hingga saat ini Rp. 0,-
4. Biaya memasak setiap hari bagi Dinda Rp. 0,-
5. Biaya sekolah Rp. 0,-
6. Biaya mengantar ke sekolah Rp. 0,-
7. Biaya les Rp. 0,-
8. Biaya mengantar les Rp. 0,-
9. Biaya mengantar dan berobat ke dokter Rp. 0,-
Hutang Dinda ke Ibu adalah Rp. 0,- (LUNAS !)
Selamat memperingati Hari Ibu.
Tetap Semangat !!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar