Kamis, 15 Juli 2010

JUBAH KEBAHAGIAAN

Suatu waktu, tersebutlah seorang raja yang sangat kaya raya. Negerinya sangat indah dan kaya. Dan dari waktu ke waktu sang raja - dengan kekuatan tentara dan persenjataannya yang sangat memadai - menguasai kerajaan-kerajaan di sekitarnya, sehingga semakin kayalah dia. Banyak sudah emas permata yang disampaikan kepadanya sebagai tanda takluk dari kerajaan lain, belum lagi dengan banyaknya istana dan para pelayan serta para prajuritnya, yang siap untuk memberikan pelayanan terbaik mereka kepada junjungannya tersebut. Maka dari itu sang raja selalu dapat konsentrasi untuk menumpuk kekayaannya. Baik untuk dirinya maupun kerajaan yang ia pimpin. Namun dengan sangat banyaknya kekayaan yang dia miliki tidak membuat dirinya tenang. Tidur tidak nyenyak dan hati selalu gundah. Ada saja yang dia pikirkan dan khawatirkan. Terutama berkaitan dengan bagaimana cara untuk menambah kekayaan dan mempertahankan tanah jajahannya.

Hal ini membuat dirinya sibuk berpikir, bagaimana caranya agar dia dapat merasa tenang dan tidak lagi gundah. Banyak cara sudah dia tempuh. Dengan menyuruh tabib untuk membuat obat penenang, obat yang membuat tidur dan lain-lain. Namun hal tersebut tidak membuatnya tenang, karena setelah habis masa kerja obat tersebut dia kembali ke rasa gundahnya. Para tetua istana-pun telah dimintainya nasehat, namun apa daya, nasehat yang diberikan belum membuahkan hasil.

Hingga suatu hari dia mendengar terdapat seorang bijak yang selalu memberikan nasehat kepada yang membutuhkan. “Mungkin orang ini dapat memberikan pencerahan kepadaku,” pikir Raja. Maka segera dia mengutus prajuritnya untuk membawa Orang Bijak tersebut ke istana. Singkat cerita, sampailah Orang Bijak di istana. Segera dia dihadapkan kepada Raja, yang segera menceriterakan keluhannya dan sekaligus minta nasehat agar terbebas dari masalah yang dia hadapi. Setelah mendengar keluhan sang Raja, si Orang Bijak berpikir sejenak sambil mencari tahu apa yang menjadi keinginan sang Raja.

“Mohon maaf Baginda, sebenarnya apakah yang hendak paduka inginkan?” tanya Orang Bijak.

“Aku ingin bahagia,” jawab Raja.

Orang Bijak kemudian berkata, “Tuanku akan segera bebas dari keluhan yang disandang saat ini, jika saja Tuanku mau untuk memakai Jubah Kebahagiaan. Jubah ini dimiliki oleh seseorang yang paling bahagia.”

“Bagaimana cara agar aku bisa mendapatkan jubah itu,” tanya Raja.

“Mudah Baginda, cari seseorang yang paling bahagia di negeri Paduka yang sangat luas ini. Mintalah jubahnya dan segera Paduka pakai. Maka niscaya Paduka akan menjadi orang yang bahagia.”

Mendengar hal tersebut, sang Raja segera memerintahkan para prajuritnya untuk menyisir seluruh negeri demi mencari orang yang paling bahagia. Segera saja para prajurit mencari ke seluruh penjuru kerajaan. Setelah beberapa hari, prajuritnya memberikan laporan bahwa telah diketemukan orang yang paling bahagia. Betapa senangnya sang raja.

“Mana jubah yang dimiliki oleh orang itu,” tanya Raja.

“Ampun beribu ampun Baginda, memang kami telah menemukan orang yang paling bahagia di seluruh negeri, namun dia tidak memiliki jubah. Karena jangankan jubah, baju saja dia tidak memiliki banyak.”

Demi mendengar jawaban tersebut, marahlah sang raja. Kemudian dipanggilnya Orang Bijak dan Orang Paling Bahagia tersebut untuk menghadapnya ke istana.

“Kenapa kau permainkan aku, hai Orang Bijak. Ternyata orang paling bahagia di seantero negeri tidak memiliki jubah apapun ! Sebelum kupenggal kepalamu karena telah mempermainku, apa pembelaanmu !”

“Ampun Baginda,” kata orang bijak, “Orang ini memang tidak memiliki apapun yang dimiliki oleh Baginda, namun dia memiliki kebahagiaan. Dan jubah itu hanya ada di hati kita masing – masing. Jubah hamba ibaratkan sebagai pelindung diri dan jiwa kita. Jika kita diliputi kebahagiaan maka saat itulah kita memiliki jubah tersebut. Dan Orang Paling Bahagia ini memiliki diri dan jiwa yang bahagia dengan segala kekurangan dan kesederhaannya. Hal pokok Baginda, hamba akan mengatakan bahwa kekayaan apapun bentuknya, tidak mesti memberikan kepada kita kebahagiaan. Seperti yang dialami paduka saat ini. Namun bahagia dapat berasal dari kesederhaan dan kesahajaan.”

Mendengar penjelasan tersebut sang raja manggut-manggut mengerti.

Pembaca, saudaraku semua…

Kadang bersahaja menjadi pilihan banyak orang untuk menjalani hidupnya.
Kesahajaan dapat dilakukan oleh siapapun, baik tanpa memandang kaya dan miskin. Karena banyak disekitar kita seseorang kaya yang hidup bersahaja. Dan kuncinya adalah mereka ingin mendapatkan kebahagiaan dengan kesahajaan dan kesederhaannya. Bagi seseorang yang kekurangan, bahagia-pun dapat terwujud sebagaimana kisah diatas. Sekali lagi…. bukan ukuran jika kekayaan dipergunakan untuk menakar kebahagiaan seseorang. Semoga kemudian hari kita dapat menjadi seseorang yang ikut merasakan indahnya dan bersyukur kepada Tuhan jika melihat orang lain, siapapun dia kaya-miskin, teman-orang lain, atasan-bawahan dan sebagainya yang mendapatkan anugerah kebahagiaan.

TETAP SEMANGAT !!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar