Alkisah, sepasang suami istri ingin membeli kado ulang tahun perkawinan bagi sahabat terdekat mereka. Untuk itu mereka mencoba mencari barang / kado yang menurut mereka pantas dan baik. Setelah berkeliling kota, tibalah mereka ke sebuah toko yang menyediakan souvenir antik.
Setelah berkeliling toko, maka jatuhlah pilihan keduanya kepada sebuah cangkir yang sangat cantik. Bentuknya bagus dan catnya indah sekali dipandang mata.
“Lihat, cangkir ini sangat cantik,” kata suami kepada istrinya.
“Bentuk dan warnanya sangat indah… sangat mempesona,” kata istrinya.
Sekonyong-konyong cangkir itu berbicara. “Dulu aku bukan barang yang cantik. Aku hanya seonggok tanah liat. Dan berada dalam tanah yang gelap. Hingga suatu hari aku diangkat oleh seorang pembuat gerabah, karena ditarik paksa dengan tanah lainnya aku merasa kesakitan dan berteriak. Namun dia berkata. ‘Belum’. Kemudian aku diletakkan di atas roda berputar dan kemudian mulai diputar. Aku pusing, pusing sekali. Lagi – lagi aku berteriak. ‘Belum’ katanya lagi. Setelah itu aku di tonjok dan dipipihkan sehingga aku menjadi tersiksa. Aku berteriak lagi. ‘Belum’ katanya lagi. Tonjokan terus berlanjut. Walaupun aku terus berteriak kesakitan.
Ketika tonjokan berakhir aku justru dibuat berkeringat dengan di letakkan di lapangan. Aku dijemur. Kembali aku berteriak kepanasan. Namun teriakan itu justru membuahkan aku di masukkan ke dalam perapian yang membakarku. Aku berteriak sejadinya. Namun kalimat ‘Belum’ terus terdengar, setiap aku berteriak.
Akhirnya penyiksaan itu pun berakhir, setelah aku diangkat dan didinginkan. Kemudian diwarnailah diriku sehingga cantik. Legalah diriku. Namun belum berakhir … karena kemudian aku di masukkan kembali ke perapian yang lebih panas dari yang pertama tadi. Aku berteriak sekuatnya karena kesakitan saat itu.
Setelah penyiksaan ini berakhir, aku dibiarkan dingin. Dan kemudian aku di letakkan di sebelah sebuah cermin.
Di cermin aku dapat melihat bayangan diriku Wah… hampir aku tak percaya. Karena sekarang diriku menjadi sebuah bentuk baru yang sangat cantik dan indah. Setiap orang yang melintas pasti menyempatkan diri untuk memandangku dengan takjub. Aku sangat bangga dengan keadaaan diriku saat ini. Apalagi setelah melewati proses yang bagiku sangat menyakitkan.”
Kemudian suami istri itu membeli cangkir tersebut dengan harga yang tinggi. Untuk dipersembahkan sebagai tanda mata bagi sahabat terbaik mereka.
Pembaca, sahabatku semua,
Banyak tantangan dan cobaan dalam menghadapi hidup. Menyelesaikannya akan menjadikan kita lebih baik dimasa yang akan datang. Jangan hanya mengeluh karena tantangan yang dihadapi setiap hari semakin berat. Karena tempaan itu akan membuat kita semakin bermakna.
Tantangan apapun bentuknya, baik tantangan dalam kehidupan sehari-hari, tantangan pekerjaan, tantangan dalam belajar… akan membuat kita menjadi lebih baik jika kita dapat melewati, menyelesaikan dan memaknainya dengan cara yang tepat. Memang pada saat itu tidaklah menyenangkan, sakit, penuh penderitaan, dan banyak air mata. Tetapi inilah satu-satunya cara untuk mengubah kita supaya menjadi cantik dan memancarkan kemuliaan.
Semakin kita mampu menyelesaikan tantangan, maka kemampuan tersebut dapat dipergunakan sebagai modal dalam menyelesaikan tantangan lainnya di masa yang akan datang.
Bukan hal yang patut disesali jika sementara orang lain masih tertidur kita sudah berlari dalam rangka menyongsong masa depan kita.
Banggalah menjadi orang yang mempersiapkan diri dengan mau menghadapi tantangan (dan menyelesaikan pekerjaan yang menjadi kewajiban kita) secara lebih dini. Pahamilah bahwa ujian terhadap kita menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang supaya kita menjadi sempurna dan utuh. Sehingga dimasa yang akan datang kita akan dapat mengatakan : “Tempaan itu ternyata membuat diriku menjadi lebih baik. Padahal dahulu aku tidak menyadarinya.”
Jadikanlah diri kita untuk menjadi seseorang yang mau menghadapi tantangan dan siap lebih dini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar