Sore itu udara agak panas, sisa dari panas teriknya sang surya pada siang harinya masih terasa. Seorang petani pulang dengan membawa alat kerjanya, cangkul di pundaknya dan wadah bekal makan siangnya yang saat ini telah kosong ditenteng di tangan kirinya. Isi wadah, yang berupa nasi, sayur dan lauk masakan istri tercintanya telah berpindah kedalam perutnya siang tadi dan memberinya tenaga yang membuatnya dapat menyelesaikan garapan di sawah hari itu. Ketika sampai di pinggiran kampung, tepat dibawah sebuah pohon besar tanpa sengaja sang petani menemukan seekor anak burung yang tergeletak diatas tanah. Mungkin dia jatuh dari sarangnya atau diambil paksa oleh hewan pemangsa dan terjatuh, entahlah. Si anak burung menciap dan berusaha menggerakkan sayapnya yang belum sempurna betul. Kakinya-pun coba untuk ia gerakkan namun apa daya, kekuatan ototnya belum memadai untuk membawanya berlari. Apalagi terbang. Demi melihat hal itu, sang petani merasa kasihan. Dibawanya anak burung ke rumah.
Sebagaimana layaknya petani lainnya, selain menggarap sawah / ladang untuk menopang hidupnya mereka juga beternak unggas. Demikian juga dengan sang petani ini, dia juga memiliki puluhan ayam kampung yang diternakkan. Kebetulan saat itu terdapat satu induk ayam yang sedang menetaskan telur-telurnya. Sebagian sudah menetas dan sebagian lagi belum. Sang petani kemudian memasukkan burung kecil tadi ke dalam sangkar ayam, dicampurnya dengan anak-anak ayam dan telur lainnya.
Ketika telur telah menetas seluruhnya, induk ayam turun dari sangkar sambil mengajak anak-anaknya untuk mengenal dunia, dia tidak menyadari bahwa terdapat “anak selundupan” dalam keluarganya yaitu seekor anak burung. Maklumlah, dia kan tidak bisa menghitung. Sebagaimana layaknya seekor induk, dia mengajarkan nilai-nilai kehidupan ayam kepada semua anaknya. Dari bagaimana mematuk yang baik, mencari makanan untuk dirinya sendiri, mengenali dan menghindari elang sebagai musuh utama, menghindari tempat yang terlampau tinggi agar tidak terjatuh, cara tidur, bertoleransi dengan ayam lain, cara berkelahi dan bertarung memperebutkan makan dengan ayam lain, hingga cara menghindar jika kalah bertarung yaitu lari secepatnya.
Tak terasa, waktu telah sekian lama berlalu. Anak-anak ayam telah beranjak sedikit dewasa. Bagaimana nasib si anak burung ? Dia menjadi “ayam” yang baik. Tiap hari berjalan kesana-kemari, cekatan, larinya cepat, pintar mencari makan. Hingga pada suatu saat dia berpikir, ah seandainya aku bisa jadi seperti burung elang musuh kami, terbang kesana kemari dengan kepakan sayapnya yang gagah. Namun cita-cita itu dikuburnya dalam-dalam, jangankan jadi elang kepada Si Jago saja dia segan. Karena dia sebagai bapak dari ayam-ayam lainnya (maklum jagonya cuma satu) selain itu Si Jago merasa semua ayam sang petani perlu perlindungannya dan dia akan mengusir setiap ayam jago lain yang masuk “wilayah kekuasaannya”, pokoknya dimata si anak burung Si Jago memang jagoan abis. Dan dia ingin jadi seperti itu. Dia bercita-cita kelak ingin jadi pelindung banyak ayam, dihormati oleh mereka serta disegani oleh ayam-ayam lain. Sebuah cita-cita mulia bukan?
Namun cita-cita itu tidak pernah kesampaian. Bukan karena dia keburu disembelih sang petani, namun ada kejadian hari itu yang membuat perhitungan dan kehidupannya menjadi berubah. Begini ceritanya.
Suatu siang yang terik dia bermain sendirian di tanah lapang. Tiba-tiba ayam-ayam lainnya riuh mengeluarkan suara isyarat akan datangnya bahaya. Rupanya seekor burung elang mengintai dari ketinggian angkasa sana. Mencari mangsa untuk dimakannya. Si anak ayam yang sejatinya burung ini tidak sempat menghindar, tidak ada tempat berlindung dan dia terjebak ! Ketika dia menangis dan menjerit sekeras-kerasnya karena ketakutan dan meratapi nasibnya yang sebentar lagi akan menjadi santapan elang, dia kaget. Karena elang tidak membawanya namun justru berdiri gagah disampingnya. Elang gagah itu berkata “Hai, kau adalah elang. Bagian dari kami, ayo terbang bersamaku dan mengarungi angkasa !”. Olala, ternyata si anak ayam selundupan tersebut adalah seekor anak elang. Begitu dia mendengar kata-kata elang, si-anak ayam eh anak elang ragu-ragu. Apa iya aku bisa.
“Ayo kepakkan sayapmu, arungi angkasa, jadilah makhluk kuat sekarang !” teriak elang kepada anak elang yang masih tertegun. Kemudian anak elang mulai mengepakkan sayapnya, pelan-pelan hingga berhasil terbang. Ketika lama kelamaan dapat menguasai dirinya, dia terbang dengan gagahnya. Sebagaimana dia cita-citakan dahulu. Dia selama itu tidak menyadari bahwa dirinya adalah seekor burung elang yang hidup dalam habitat ayam dan unggas lainnya.
semangat !!
BalasHapus