Kamis, 15 Juli 2010

SAWAH PAK TUA

Alkisah terdapat dua orang petani yang memiliki tanah sawah berdampingan dengan tingkat kesuburan yang sama. Sepetak sawah sebelah utara dimiliki oleh seorang lelaki tua. Sedangkan sepetak sawah disebelah selatan dimiliki oleh seorang yang masih muda. Pak Tua memiliki sifat yang rajin, ceria, senang membantu dan memiliki sifat kekeluargaan yang sangat tinggi. Sedangkan si petani muda adalah seseorang yang memiliki sifat tertutup, tidak suka bergaul, selalu menyalahkan pihak lain dan pengumpat. Sehingga di masyarakat dia dijuluki Pak Cemberut. Karena mukanya yang selalu masam / cemberut.

Ketika musim tanam telah dimulai, keduanya juga memulai proses menanam padi secara bersamaan. Karena biasanya musim tanam dilaksanakan secara serempak dalam satu hamparan sawah. Tidak ada yang istimewa dengan keduanya. Ketika yang lain mencangkul sawahnya, maka kedua orang ini juga mencangkul, ketika orang lain mulai menanam, mereka juga menanam, begitupun ketika saat petani lain memberi pupuk maka mereka berdua-pun demikian, begitu seterusnya.

Ketika pada saat panen tiba, maka semua petani memotong padi hasil jerih payahnya selama ini. Jerih payah dalam menjalankan kewajibannya menanam dan merawat tanaman padinya. Harapan besar mereka adalah mendapatkan hasil panen yang sangat banyak. Semua orang pasti demikian bukan ? Namun apa daya, hasil panen Pak Tua selalu lebih baik dari hasil panen Pak Cemberut. Hal tersebut selalu terjadi setiap musim panen. Ini selalu membuat Pak Cemberut bingung. Entah siapa yang dapat mengurai permasalahannya. Karena, di sawah mereka mengolah tanah dan tanamannya dengan perlakuan yang sama.

Dan jika ini terjadi, maka seperti biasanya Pak Cemberut mulai memaki-maki, menyalahkan tanahnya yang tidak subur, menyalahkan penjual bibit yang menurut pandangannya berbohong dengan memberi bibit yang jelek, menyalahkan petugas pengairan yang dianggap tidak becus bertugas membagi air, menyalahkan penjual pupuk dengan kalimat sumpah serapah dan seterusnya.

Suatu saat ketika Pak Cemberut menyumpah serapah atas kegagalan panennya, kebetulan lewat seorang ahli pertanian. Dia mendekati Pak Cemberut dan bertanya, “Kenapa Bapak menyumpah serapah banyak orang ?” Mendengar pertanyaan itu Pak Cemberut menyampaikan semua keluhannya, hasil panennya tidak seperti hasil panen Pak Tua bahkan petani lain. Jumlahnya selalu sedikit, katanya. Dan dia menyalahkan semua pihak yang diduga menjadi penyebab kegagalannya. Maka disebutnya satu persatu orang-orang yang selalu disebut-sebut sebagai pihak yang bertanggungjawab atas kegagalannya. Sang Ahli Pertanian manggut-manggut.

Esok harinya, demi membantu menyelesaikan permasalahan hasil panen Pak Cemberut, oleh Ahli Pertanian diadakan analisis sawah dan hasil pertanian Pak Cemberut. Hasilnya sungguh diluar dugaan. Tidak ada bibit dan pupuk palsu seperti yang dituduhkan, air tercukupi. Apa gerangan yang membuat hal tersebut terjadi ? Dari hasil pengamatan, ternyata selama ini dalam mengelola sawahnya dia membeli bibit dan pupuk yang bermutu jelek, mencangkul dengan sekenanya, jadwal pemberian pupuk yang tidak memenuhi kaidah pertanian, malas mengurus aliran air ke pematangnya. Hal ini ditambah dengan kebiasaannya mengeluarkan sumpah serapah sehingga orang malas berhubungan dengannya. Jadilah dia orang yang tidak memiliki teman atau sahabat yang seharusnya dapat memberikan masukan kepadanya akan kelemahan-kelemahan selama ini. Berbeda dengan Pak Tua, karena rajin dan supel dia dapat melaksanakan pengelolaan sawah dengan baik. Dia selalu membeli pupuk dan bibit dengan mutu terbaik, mencangkul dan memupuk sesuai dengan kaidah pertanian serta selalu memberikan cukup air ke lahannya. Selain itu informasi tentang akan datangnya hama didapat dari teman-temannya yang banyak, sehingga dia dapat mengantisipasi terlebih dahulu.

Pembaca yang budiman, dari kisah diatas dapat kita ambil teladan bahwa, apapun “sawah” kita sekarang baik dalam bentuk pekerjaan, tempat dimana kita bekerja, usaha / bisnis, proses pendidikan / sekolah mengharuskan kita untuk selalu mengelolanya dengan baik. Menjaganya, mengatur dan merawat. Sekali kita menjelek-jelekkan pekerjaan, lembaga dimana tempat kita bekerja, teledor dalam menjalankan usaha / bisnis yang digeluti atau malas belajar bagi yang sedang menuntut ilmu di sekolah, maka kita -bisa jadi- akan mendapat balasan yang setimpal. Yaitu hasil yang tidak maksimal. Untuk itu jagalah “sawah” kita dengan baik agar dapat memberikan hasil terbaiknya. Jangan kita rusak, karena apapun kerusakannya, maka kita jugalah yang kelak akan menanggung akibatnya.

Sekian, TETAP SEMANGAT !!!

Tulisan ini terinspisari dari wejangan Alm. Bapak Untung Sadermo.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar