Dikisahkan, terdapat sebuah kampung yang berada di seberang sebuah bukit pegunungan.Karena letaknya tersebut, membuat warga yang akan menuju ke kota untuk menjual hasil bumi, membeli keperluan hidup dan kegiatan lainnya, diharuskan mengambil jalan memutar hingga mengelilingi setengah dari perbukitan tersebut. Tentu saja ini membutuhkan waktu yang sangat lama. Belum lagi jalanan yang terjal dan berbatu.
Hingga suatu saat seorang kakek warga kampung memiliki keinginan yang dianggap aneh dan gila. Dia bercita-cita ingin membelah dan menembus pegunungan tersebut. Banyak orang mencemooh ketika suatu malam si kakek menceriterakan keinginannya tersebut.
“Kamu telah tua kek, tidak usah macam-macam,” kata salah satu dari mereka.
“Sudah bau tanah kok masih macam-macam” kata yang lain. Yang lainnya lagi tertawa berderai sambil mengejek.
Namun tekad sang kakek sudah bulat. Mulai esok hari dia akan membuat jalan menembus pegunungan. Harapannya adalah agar warga lainnya dapat berjalan menembus gunung tanpa harus mengambil jalan memutar lagi. Dan benar saja, keesokan harinya sang kakek mulai menggali bukit dengan alat seadanya. Waktu terus berlalu, hari berganti hari, bulan berganti bulan. Sedikit demi sedikit, bukit itu dikikisnya.
Melihat orang tuanya yang bekerja sendirian dan bukit telah mulai terkikis, anak lelakinya yang selama ini ikut mencemooh pekerjaan ayahnya tersebut mulai ikut menggali. Dengan tambahan tenaga anak lelakinya, maka lebih cepatlah proses penggalian tersebut dilakukan. Lama kelamaan mulai kelihatan bentuk bakal jalan yang merupakan hasil penggalian keduanya.
Melihat semangat kedua orang tersebut, dan mulai kelihatan bentuk dari bakal jalan yang dibuat, warga lainnya ikut membantu dengan alat-alat mereka. Yang pria ikut mencangkul sedangkan kaum wanitanya ikut menyingkirkan tanah hasil cangkulan. Bersemangat sekali mereka bekerja. Sehingga bukit yang tadinya menggunung kini sedikit demi sedikit terbelah oleh sebuah jalan yang dibuat oleh warga kampung.
Dengan selesainya jalan tersebut, membuat warga dapat lebih cepat menuju kota, bahkan kini banyak saudara – saudara yang selama ini malas datang ke kampung mereka karena jauh menjadi lebih sering datang. Mereka patut berterima kasih pada kakek yang telah memiliki cita-cita besar membuat jalan dengan membelah bukit.
Pembaca yang budiman,
Ada lagi kisah yang akan kami tuturkan dibawah ini. Ini kisah nyata yang terjadi pada tahun 1988. Dimana pada saat itu terdapat nama yang ramai diperbincangkan orang. Nama tersebut adalah Ibu Eroh, waktu itu berumur kurang lebih 50 tahun, dia warga Kampung Pasirkadu, Desa Santana Mekar, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.
Apa yang membuat nama Ibu Eroh banyak disebut?
Itu karena Ibu Eroh, bergelantungan seorang diri di lereng yang tegak di tebing cadas, di lereng timur laut Gunung Galunggung. Ibu Eroh berhasil berjuang sendirian membuat saluran air selama 47 hari. Ketika pertama kali Ibu Eroh melakukannya, banyak masyarakat sekitar yang mencibir tindakannya. Tapi hal itu tidak menyurutkan langkahnya untuk terus bekerja. Ibu Eroh percaya akan kemampuan nya, walau saat itu usianya boleh dibilang tidak muda.
Ibu Eroh yang hanya mengecap pendidikan hingga kelas III SD dan memiliki tiga orang anak, dalam aksinya menggunakan tali areuy, tali sejenis rotan sebagai penahan ketika bergelantungan. Sedangkan alat yang dipakai untuk ‘mengebor’ tebing cadas hanyalah cangkul dan balincong, serupa linggis pendek.
Saluran untuk mengalirkan air dari Sungai Cilutung akhirnya berhasil diselesaikan.
Berhentikah tindakan Ibu Eroh mengebor tebing cadas? Belum.
Dengan semangat yang tak kenal menyerah, Ibu Eroh melanjutkan membuat saluran air berikutnya sepanjang 4,5 kilometer mengitari 8 bukit dengan kemiringan 60-90 derajat. Pengerjaannya kali ini dibantu oleh warga desa yang mau membantunya, setelah melihat dengan mata kepala sendiri hasil yang telah dilakukan Ibu Eroh. Dalam waktu 2,5 tahun, pekerjaan lanjutan itu terselesaikan dengan baik. Hasilnya? Bukan hanya lahan pertanian sawah Desa Santana Mekar yang terairi sepanjang tahun. Tapi juga dua desa tetangga yang ikut menikmati kucuran air hasil kerja keras Ibu Eroh setelah warganya membuat saluran penerus, yaitu Desa Indrajaya dan Sukaratu.
Aksi Ibu Eroh akhirnya sampai juga ketelinga Presiden Suharto. Atas aksinya yang tergolong berani dan memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat sekitar, Ibu Eroh mendapat penghargaan Upakarti Lingkungan Hidup pada tahun 1988. Setahun kemudian, dia juga meraih penghargaan lingkungan dari PBB.
Pembaca sahabatku semua,
Dua kisah di atas memberi hikmah bahwa sebenarnya kita (anda, saya dan semua orang) memiliki kepercayaan diri yang tinggi atas kemampuan yang dimiliki. Keberhasilan dalam hidup akan terjadi jika kita memiliki cita-cita, angan-angan, keinginan atau apapun bentuknya. Cita-cita, angan-angan dan keinginan tersebut akan terjadi jika kita berusaha untuk mewujudkannya. Bagaimana mewujudkannya ? kita harus melakukan sesuatu untuk memulainya dan melaksanakannya dengan tata cara yang tepat.
Kenapa kita harus melakukan sesuatu untuk memulainya? Karena tanpa kita pernah memulai, kita tidak akan pernah ketemu akhir penyelesaiannya. Sebagai contoh, jika anda tidak pernah mulai perjalanan, maka anda tidak akan pernah sampai tujuan bukan?
Mari kita bersama-sama mulai mengerjakan sesuatu untuk mencapai cita-cita besar kita. Tidak akan ada keberhasilan yang datang dengan tiba-tiba. Namun dengan melakukan hal - sekecil apapun - untuk menuju keberhasilan akan menjadikan hidup kita lebih bermakna. Daripada berdiam diri dan malas untuk berusaha.
Yakinlah bahwa diri kita memiliki kemampuan terpendam yang jauh lebih besar daripada yang kita ketahui dan pergunakan saat ini. Jika kita mau menggalinya, maka akan menjadi mukjizat yang sangat luar biasa !
Tetap semangat !!!
![]()
Cerita tentang Ibu Eroh diinspirasi oleh tulisan :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar