Selasa, 10 Agustus 2010

SI PENUNGGU KESEMPATAN

Dahulu kala, pada suatu siang yang terik, di sebuah kota, seorang pemuda termangu di depan pertokoan. Setiap orang yang menanyakan kepadanya, kenapa dia melakukan hal itu, selalu dijawab dengan kalimat pendek. “Sedang menunggu kesempatan besar datang.” Hari berganti hari...minggu berganti minggu ....bulan berganti bulan .... “kesempatan” itu-pun belum muncul juga. Pernah seseorang menyuruhnya untuk berdagang kaki lima seperti yang dilakukan oleh orang lain dikota tersebut. Namun apa jawabnya, “Ah... dagang kaki lima-kan hanya pekerjaan kecil-kecilan, aku ingin kesempatan yang besar.” Dan jika ada orang yang menyuruhnya untuk mendaftarkan sebagai pegawai maupun prajurit kerajaan, dia akan berkata, “Ah... jadi pegawai dan prajurit kerajaan gajinya kecil.”

Habis sudah pikiran orang tua, saudara, sahabat dan orang-orang disekitarnya untuk membujuknya agar mau mencoba mencari kesempatan demi memperbaiki nasibnya. Dia selalu berkata, “Aku menunggu kesempatan besar, kelak aku ingin bekerja dengan saudagar kaya. Aku tidak mau mencari hasil yang dari yang kecil-kecil.”

Suatu hari, datanglah seorang dengan pakaian sederhana dan agak lusuh (layaknya dia sering bepergian jauh). Kepada si pemuda ia berkata, “Nak, bisakah kau bekerja untukku?”

Sambil melirik si pemuda menjawab, “Hai Pak Tua, pekerjaan apa yang kau tawarkan kepadaku?”

“Ikutlah denganku ke negeri seberang, bantu aku membawa barang-barang daganganku.”

“Puih !” si Pemuda mencela. “Kalau hanya butuh tenaga untuk mengangkut barang daganganmu, belilah saja kuda pengangkut. Jangan tawari aku dengan pekerjaan kasar seperti itu, aku menunggu kesempatan untuk bekerja dengan saudagar besar dengan gaji yang besar pula.”

Demi mendengar kata-kata si pemuda, orang tersebut -yang ternyata seorang pedagang- sempat terjengah. Namun segera dia dapat menguasai diri dan dengan tenang segera beranjak meninggalkannya. Buat apa dia mengajak orang yang tidak mau diajak kerja.

Segera dia melanjutkan perjalanannya untuk berdagang ke negeri seberang, melewati jalan kota dan semakin jauh...semakin jauh...

Ketika pedagang tersebut semakin jauh, datanglah seorang tua menemui si Pemuda. “Nak,” katanya. “Kenapa kau menolak pekerjaan yang telah ditawarkan oleh pedagang tadi?”

“Aku malas kakek tua, paling-paling hanya disuruh mengangkat barang dagangan orang tersebut. Lagian kenapa pula aku harus jauh-jauh ke luar negeri kalau hanya untuk pekerjaan kasar seperti itu. Paling gajiku kecil pula, berapa sih ongkos tenaga angkut. Dan yang paling penting, aku tidak akan pernah mau bekerja pada pedagang kecil sepertinya,” jawab si pemuda dengan angkuh.

Kakek itu menimpali sambil berlalu, “Tahukah kau, bahwa orang yang berpenampilan sangat sederhana dan memberi tawaran pekerjaan tadi adalah salah satu pedagang terkaya di negeri ini. Jika saja kau mau, dia pasti akan menggaji dengan cukup bahkan mungkin lebih. Ketahuilah, kesempatan yang telah kau tunggu sekian lama telah lewat, baru saja. Beberapa detik yang lalu. Dan kau tidak akan tahu kapan dia (kesempatanmu) akan datang lagi.”

Setelah kakek tua itu berlalu, tinggalah si pemuda menyesali diri.

Pembaca, sahabatku ....

Banyak dari kita yang tanpa sadar menginginkan perubahan dalam hidup kita dengan menggantungkan kepada “nasib” belaka. Menunggu agar nasib menjadi baik, menunggu kesempatan besar dan menjanjikan. Padahal kadang kita lupa bahwa kesempatan itu bisa hadir di depan kita dengan berbagai macam cara. Bisa datang dengan sendirinya atau (lebih banyak datang) setelah kita berusaha dengan sebaik-baiknya hingga kesempatan itu datang. Mengharap keberuntungan dan menggantungkan kepada “nasib” memang sangat diperbolehkan. Namun berusaha dan berupaya sebaik mungkin dengan mengedepankan nilai – nilai profesionalisme, sportivitas, dan nilai positif lainnya (bagi siapapun kita dan apapun pekerjaan kita) akan memberikan nilai lebih bagi diri kita. Karena bukan hasil berpangku tangan yang menjadikan dunia ini terang oleh listrik, namun karena usaha keras Thomas Alva Edison yang melakukan percobaan ribuan kali, bayangkan apa yang terjadi dengan dunia jika dia tidak memiliki keinginan kuat dan hanya bergantung kepada nasib.

Begitulah, jika kita hanya menggantungkan pada nasib. Dan lebih banyak mengikuti “aliran air yang mengalir”, kemana akan membawa nasib kita. Maka jangan salahkan orang lain jika alirannya masuk ke saluran pembuangan alias got. Anda mau ?

Sekian. Tetap semangat !!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar