Selasa, 10 Agustus 2010

TALI RAFIA

Kami sekeluarga (saya bersama istri dan anak semata wayang kami, berumur 5 tahun) memiliki kebiasaan berkendaraan roda dua jika hendak menengok orang tua yang kebetulan jauh di salah satu kabupaten di daerah pantai utara Jawa sana. Ini kami tempuh karena alasan menghemat waktu dan biaya. Jika kami mempergunakan mobil angkutan umum, akan menempuh waktu 5-6 jam sampai disana ditambah lagi ongkos yang mencapai 35 ribu rupiah per orang sekali jalan. Bisa dibayangkan jika kami sekali jalan akan menghabiskan lebih 100 ribu rupiah. Ditambah anak dan istri yang hampir dipastikan akan menderita mabuk dalam perjalanan. Jika naik kendaraan bermotor roda 2, waktu tempuh 3 jam dan biaya sekitar 30 ribu rupiah saja. Lebih hemat.

Ketika hari Raya Idul Fitri, menjadi salah satu waktu yang harus kami alokasikan untuk kesana. Hari-hari terakhir bulan puasa, menjadi waktu untuk mempersiapkan keberangkatan kami. Pada waktunya hari dimana kami akan berangkat, pagi-pagi kami mempersiapkan segala sesuatunya. Dari baju dan tetekbengeknya, jajanan untuk diperjalanan (karena kami terbiasa istirahat sambil minum dan makan jajanan sekedarnya).

Pagi itu saya mendengar istri di ruang tengah menggerutu. Karena dia membutuhkan seutas tali rafia untuk memperkuat sesuatu bungkusan yang akan kami bawa. Pagi itu saya ikut sibuk mencari, anak kami-pun ikut sibuk mencari (walaupun pada akhirnya malah menambah repot karena malah mengobrak-abrik semuanya). Heboh benar pagi itu untuk mencari si tali rafia. Ternyata membutuhkan waktu tidak sedikit untuk mencari si tali rafia ketika itu. Padahal pada kesempatan lain, kadang kami membuang begitu saja tali rafia bekas yang ada. Pencarian ini tentu saja menambah pekerjaan karena masih banyak barang lain yang harus disiapkan, maklum berkendaraan roda dua membutuhkan kejelian untuk menata barang agar tidak makan tempat dan prioritas barang yang kemungkinan akan diambil di perjalanan tidak berada jauh dibawah tumpukan barang lainnya.

Kejadian di pagi itu, memberikan kepada saya betapa diperlukannya sebuah benda sekecil tali rafia. Yang secara “semena-mena” kadang kami buang dengan tanpa memikirkan secara jauh ke depan akan kegunaannya di masa yang akan datang. Kadang tali rafia ini “datang” ke rumah kita dengan sengaja atau tidak sengaja. Jika kita membelinya maka dapat dikatakan sengaja, namun dalam pengalaman sehari-hari lebih banyak kedatangan tali rafia ini ke rumah kita karena “menyertai” barang yang datang / dibawa ke rumah kita.

Dan lebih jauh hal ini memberikan saya gambaran bahwa dalam kehidupan kita, ada saja seseorang yang seberguna rafia, namun kadang terlupakan. Dalam pekerjaan, ada saja orang yang dengan “enteng tangan” mau membantu kita untuk memfotokopikan naskah pekerjaan kita, mengambilkan kertas, membuatkan segelas air teh, atau bahkan menyapu ruangan kantor di pagi hari. Kadang mereka dianggap sepele dan terhadap mereka (kadang) cara pandang kita kurang pantas, hanya karena pekerjaannya, namun ketika mereka tak ada terasa ada bagian dari lingkaran pekerjaan yang hilang. Bagaimana repotnya ketika kita diharapkan menyelesaikan pekerjaan, sementara secara bersamaan kita harus memfotokopi beberapa lembar kertas pekerjaan repotnya lagi di tempat foto kopi keadaan ramai dan masih harus antri, capeek deh. Jika suatu hari beliau ini tidak hadir, maka bisa jadi orang / teman-teman sekerja yang mempertanyakan ketidakhadirannya pasti banyak yang pasti diikuti rasa “kehilangan” karena ketidakhadirannya.

Begitu pula di dalam bermasyarakat, ada kalanya kita memiliki warga / tetangga yang menurut pandangan kita “terlampau enteng tangan” dalam membantu sesama warga lain, dan bantuan tersebut menjadi hal yang sangat terasa ketika suatu saat kita mendapatkan bantuannya, dan akan kehilangan ketika yang orang tersebut tidak muncul ketika dibutuhkan. Bagi sementara orang terkadang hal tersebut menjadi hal yang aneh, namun pada saatnya mereka akan memberikan sumbangan / kontribusi yang sangat nyata, baik dalam kehidupan bermasyarakat maupun dalam hubungan antar pribadi.

Disadari atau tidak, mereka ini merupakan pribadi yang unik. Selalu menikmati pekerjaannya dan jauh dari pamrih serta mau melakukan sesuatu hal dengan cara yang kadang tidak kita bayangkan. Keberadaan mereka menjadi bagian dari keseharian kita, dan mereka layak untuk mendapatkan penghargaan lebih baik dari siapapun. Bukan dengan materi yang berlebih, atau ucapan terima kasih yang berlebihan sehingga kita sampai terbungkuk-bungkuk mengucapkannya, namun cara pandang yang lebih baik dan lebih pantas bagi mereka merupakan suatu hal indah yang dapat kita lakukan. Dan saya yakin itu hal yang sangat mudah, amat sangat mudah.

Itulah, jika mau sejenak melihat sekeliling, kita akan menyadari bahwa terdapat seseorang yang menjadi “tali rafia” di sana. Tetap semangat !

(tulisan ini dibuat pada tahun 2008)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar